Minggu, 22 Agustus 2010

Sejarah Berdirinya SEKBERKESDA dan GAWAI DAYAK KalBar di Pontianak


Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Cikal bakal lahirnya GAWAI DAYAK dan SEKRETARIAT BERSAMA KESENIAN DAYAK (SEKBERKESDA) KALBAR di Pontianak yaitu berawal dari seorang seniman yang bernama YOSEF ODILLO OENDOEN (peranakan Dayak Salako / Nyarumkop dan Manado). Pada Tahun 1986, Bung Yosef menyampaikan rasa prihatinnya terhadap kesenian di Kalimantan Barat ini khususnya seni budaya Dayak, keperdulian masyarakat Kalimantan Barat pada umumnya dan Kota Pontianak khususnya pada SENI BUDAYA DAYAK sangat minim. Sanggar-sanggar dayak pada waktu itu banyak bermunculan, sesuai dengan sub suku masing-masing, tapi belum berkembang seperti sanggar etnis lainnya. Akhirnya Bung Yosef mengajak Bung Euggenne Yohanes Palaunsoeka untuk membuat suatu Pergelaran Seni Budaya Dayak di kota Pontianak

Keinginan untuk mengadakan Pergelaran tersebut disampaikan kepada Drs. Sebastianus Massardy Kaphat dan Moses Nyawath Elmoswath, SH dan beliau berdua menyambut baik bahkan beliau menyarankan untuk mempersatukan kembali Kesenian Dayak dalam satu wadah seperti Sanggar Banua Maribui yang mana sanggar tersebut merupakan wadah seni Budaya Dayak yang tergabung dari sub-suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat, sanggar tersebut merupakan Sanggar Dayak pertama di kota Pontianak yang didirikan pada 1960 – 1970-an dan pendirinya adalah Alm. Aloysius Sawa (ayah dari Bapak Moses Nyawath Elmoswath E, SH) dan Alm. Agustinus Djelani (mantan Bupati Kabupaten Pontianak yang pertama). Sanggar Banua Maribui tersebut pada tahun 1960-an sangat berkembang dan pernah mengadakan pertunjukan di Jakarta, Surabaya bahkan di Singapura. Namun sanggar tersebut akhirnya bubar dan masing-masing mendrikan sanggar sesuai dengan sub-sukunya.

Dari pertemuan dengan Drs. SM. Kaphat dan Moses Nyawath Elmoswath, SH, maka diadakanlah pertemuan bersama sanggar-sanggar Dayak yang ada di Kota Pontianak sebanyak 2 (dua) kali yaitu :
1.Pertemuan pertama tanggal 2 Maret 1986 beertempat di Gedung Pasifikus.
Pimpinan Rapat pada waktu itu adalah Drs. SM. Kaphat dan Yoseph O Oendoen, S.Sn.
Yang hadir yaitu : Marcelinus (Bengkawan), Simplisius (Persada Khatulistiwa), Sabinus Melano (Pelatih tari SMA Sto Paulus Pontianak), Thomas Soeka (Sari Budaya), Herman Widodo (STEMKA), Thomas Benyamin (Flamboyan) dan FX. Sukarius (STEMKA).
Masalah yang dibahas yaitu : Rencana pembentukan Badan Kerjasama sanggar-sanggar Daerah Pedalaman.
Kesimpulan dari pertemuan tersebut yaitu :
-Pimpinan sanggar yang hadir setuju dibentuknya Badan Kerjasama sanggar-sanggar yang ada.
-Belum dapat dibentuk pada pertemuan tanggal 2 Maret 1986 karena ada 4 sanggar yang belum hadir yaitu Bakermas, Hengkung Kayaan, Terabai dan Amboyo.
-Masalah nama supaya dicari nama yang sesuai tetapi Predikat dayak ada terkandung di dalamnya.
-Bentuk Badan Kerjasama sanggar yang direncanakan bersifat Sekretariat Bersama.
-Badan ini akan meminta fasilitas kepada Kanwil Departemen P & K Bidang Kesenian dan Bidang Kebudayaan Kalbar, untuk dapat mempergunkan Rumah adat yang ada sebagai Sekretariat Bersama dan tempat-tempat latihan tarian dan sebagainya.
-Mengundang kembali sanggar-sanggar yang belum hadir untuk meminta pendapatnya, apabila ternyata tidak juga mendapat tanggapan, maka baru diambil keputusan pembentukan Badan Kerjasama ini.
-Pertemuan kedua ditetapkan tanggal 12 Maret 1986 di Gedung Pasifikus pukul 16.00 WITA dan turut mengundang sanggar-sanggar yang hadir pada pertemuan tanggal 2 Maret 1986.
-Sanggar-sanggar yang hadir telah sepakat bahwa tanggal 20 Mei 1986 akan dilakukan malam Pergelaran Seni, sehubungan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan Gawai Dayak yang telah ditetapkan oleh SK Gubernur Kadarusno tahun 1976.
Bung Yoseph O. Oendoen ditunjuk untuk mempersiapkan dan menyusun materi-materi yang akan ditampilkan pada malam Pergelaran Seni tersebut.

Resume atau kesimpulan dari pertemuan pertama ini ditandatangani oleh Drs. SM. Kaphat dan Bung Joseph O. Oendoen, S.Sn pada tanggal 6 Maret 1986.

2.Pertemuan kedua bertempat di Gedung Pasifikus pada tanggal 12 Maret 1986.
Hadir pada pertemuan ini adalah Drs. SM. Kaphat (Sari Budaya), Moses Nyawath E, SH (Bakermas), PK. Kasimin BS (Amboyo), Ans. Moinam (Amboyo), Simplisius (Bengkawan), Marcelinus (Bengkawan), Ir. F. Higang (Hengkung Kayaan), Tobias Ranggi, SH (Terabai), Romanus Razak (Terabai), Thomas Soeka (Sari Budaya), Thomas Benyamin (Flamboyan) dan Yohanes E. Palaunsoeka (Flamboyan)
Kesimpulan dari pertemuan kedua ini yaitu dituangkan dalam PERNYATAAN BERSAMA yang isinya sebagai berikut :
-Sanggar-sanggar Kesenian Dayak yang ada di Kotamadya Pontianak ini telah bertekad bulat untuk lebih meningkatkan aktivitas dalam menggali, membina dan mengembangkan kesenian-kesenian Dayak yang ada di seluruh Kalimantan Barat.
-Untuk lebih memantapkan kesatuan gerak dari pada sanggar-sanggar kesenian, disepakati dibentuknya sebuah wadah konsultatif dan komunikatif diantara sanggar-sanggar kesenian yang ada, dalam upaya meningkatkan kesatuan dan persatuan ke arah pembinaan kesenian dimaksud.
-Bentuk dan nama wadah kerjasama tersebut ditetapkan : “Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat di Pontianak”.
-Sekretariat Bersama ini dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh beberapa Assisten sekretaris yang terdiri dari sanggar-sanggar yang ada.
-Untuk ketua harian akan dfilakukan / dijabat secara periodik atau secara bergantian oleh sanggar-sanggar yang ada.
-Masa kerja Ketua Periodik dan sekretaris ini ditetapkan selama 1 (satu) tahun, terhitung sejak pembentukan badan ini.
-Untuk memimpin / mengkoordinir Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalimantan Barat periode pertama ini, telah ditunjuk / ditetapkan Bung Joseph O. Oendoen selaku Sekretaris dan Sanggar Sari Budaya sebagai Ketua Periodik.
Urutan ketua Periodik selanjutnya adalah Sanggar Bakermas, Terabai, Amboyo, Bengkawan, Hengkung Kayaan, Persada Khatulistiwa dan Flamboyan.
-Badan pengurus Sekretariat Bersama yang telah dibentuk ini, diharapkan dalam waktu dekat ini sudah harus mengajukan permohonan untuk mendapatkan fasilitas kepada pemerintah daerah Kalimantan Barat atau kantor Depdikbud KALBAR Bidang kesenian / kebudayaan agar dapat memberikan ijin dalam penggunaan Rumah Adat Dayak sebagai tempat SEKRETARIAT BERSAMA dan juga tempat latihan bagi sanggar-sanggar.

Sumber : Arsip SEKBERKESDA (Asli) dan data lengkap dengan tandatangan peserta yang hadir

Dari 2 (dua) kali pertemuan tersebut terbentuklah SEKBERKESDA (Sekretariat Bersama Kesenian Dayak) Kalimantan Barat pada tanggal 12 mare3t 1986 denagn inspirasi dari drs. SM. Kaphat, Moses Nyawath Elmoswath, SH, Yoseph O. Oendoen, S.Sn.
Dan penggeraknya adalah Thomas Soeka, Tobias Ranggi, SH, Romanus Razak, P. Kasimin, Y. Telajan, Ir. F higang, Yohanes E Palaunsoeka, Thomas Benyamin, Letkol P. Djuman, Marselinus dan Drs. Simplisius.

Dari pertemuan yang kedua di Gedung Pasifikus tersebut, terpilihlah Drs. SM. Kaphat sebagai ketua SEKBERKESDA yang pertama. Namun karena pada saat itu Drs. SM Kaphat sebagai Ketua PDI (Partai Demokrasi Indonesia) Kalbar dan seperti kita ketahui bersama bahwa pada masa Orde Baru bagi masyarakat yang dekat dengan PDI selalu dicurigai, sedangkan SEKBERKESDA harus tetap berkembang, maka demi berkembangnya Seni Budaya Dayak tersebut, Drs. SM. Kaphat berkorban dan memilih mundur dan beliau menunjuk Alm. Drs. F. Sintan panggilingan (mantan Kepala Biro Perlengkapan Propinsi Kalimantan Barat) dari Sanggar Sari Budaya untuk menggantikannya. Dan sekretaris pertama SEKBERKESDA terpilihlah Yoseph Odillo Oendoen, S.Sn.

Adapun sanggar-sanggar yang tergabung pertama kali di SEKBERKESDA dan ikut menandatangani kesepakatan berdirinya SEKBERKESDA adalah :
1.Sanggar Sari Budaya pimpinan : Drs. SM. Kaphat
2.Sanggar Bakermas pimpinan : Moses Nyawath E, SH
(sekarang bernama Sgr. Patamuan Banuaka)
3.Sanggar Amboyo pimpinan : Kalam
4.Sanggar Persada Khatulistiwa pimpinan : Yoseph O. Oendoen
5.Sanggar Gunung Bengkawan pimpinan : Letkol P. Djuman
6.Sanggar Flamboyan pimpinan : T. Benyamin
7.Sanggar Terabai pimpinan : AB. Rayon
8.Sanggar Hengkung Kayaan pimpinan : Y. Telajan
9.Sanggar STEMKA pimpinan : Yoseph O. Oendoen

Setelah penandatangan kesepakatan bersama, dibuatlah anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Dan untuk pergantian kepengurusan SEKBERKESDA ditentukan masa selama 3 (tiga) tahun.
Kepengurusan SEKBERKESDA hingga ssaat ini sudah berganti sebanyak 6 (enam) kali yaitu :
1.Tahun 1986 – 1989 Ketua : Drs. F. Sintan Panggilingan
Sekretaris : Yoseph O. Oendoen, S.Sn

2.Tahun 1989 – 1992 Ketua : Tobias Ranggie, SH
Sekretaris : Thomas Soeka

3.Tahun 1992 – 1996 Ketua : Tobias Ranggie, SH
Sekretaris : Thomas Soeka

4.Tahun 1996 – 1998 Ketua : Drs. Albert Rufinus, MA
Sekretaris : Yohanes E. Palaunsoeka

5.Tahun 1998 – 2001 Ketua : Drs. Albert Rufinus, MA
Sekretaris : Yohanes E. Palaunsoeka

6.Tahun 2001 – 2008 Ketua : Drs. Yohanes Bambang
Sekretaris : Frederick Kuyah, SE


Melihat bahwa SEKBERKESDA merupakan wadah berkumpulnya sanggar-sanggar dayak yang ada di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, dan semakin bertumbuh kembang dan diminati oleh masyarakat Dayak, untuk itu, mulai kepengurusan SEKBERKESDA tahun 2008 Struktur Organisasi diubah dan mencakup kepada Kesenian Dayak. Dan penyebutan Ketua berubah menjadi Sekretaris Jenderal (SEKJEN).
Adapun kepengurusan yang baru terbentuk berdasarkan rapat tim formatur SEKBERKESDA tanggal 20 Februari 2008 sebagai berikut :

Sekjen : Tarsisius Fantryusda Sabandap, SH
Deputi Administrasi : Yoseph Odillo Oendoen, S.Sn
Deputi Keuangan : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Catatan :
Di tulis oleh Marselina Maryani pada tahun 2005 dari berbagai sumber dan arsip SEKBERKESDA. Di terbitkan pada Bab Pendahuluan di Buku Materi Acara setiap Pekan Gawai Dayak mulai PGD tahun 2006

Senin, 16 Agustus 2010

RINTIHAN JULI

Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Kuntum Mawar Merah itu aku patri di tubuhku,dengan maksud untuk selalu mengenangmu, bahwa kau pernah hadir dan mengisi ruang hatiku. Kebersamaan yang indah denganmu masih termetrai di ubun-ubun kepalaku. Pintu dan jendela menjadi saksi saat kau umbar janji. Saat mawar merah bertaburan di ranjang kita, kau selipkan satu di belahan payudaraku ... aku yakin, aku masih ada di hatimu, tapi kita sadari bahwa kita takkan bersama .... 3 Juli 2010

Laut mulai memeluk matahari, gulita kan memagut,
Semilir angin membisik kantuk, .. kelopak mata mengatup lelah dan akan terkuak lagi sampai laut melepaskan mentari
Terus menanti Fajar dengan gulita yang semakin berkabut
desah angin menggoyang kebinalan malam
kelelawar meliuk liuk membentangkan sayapnya
kepak Sang Rembulan menjuntaikan cahayanya
Dengan menutup hari penuh senyuman,
berharap esok akan terkuak kembali
di kala Sang Surya memijarkan cahaya
dan siluetmu Pangeran Tengah Malamku
terus menari di lentik bulu mataku,
Karena hasrat terus menggunung pada benakku,
sedangkan keramahan darimu yang kunanti tak kunjung tiba,
hanya asa yang terus mengukir semangat,
hingga aku hanya pasrahkan semua indah dalam mimpi,
dengan menaburkan mawar pada alam impianku, hingga petiduran kita yang pernah harum, terus mewangi, butiran keringat kembali melumuri tubuh kita, sampai ayam berkokok dan aku kembali pada dunia nyata, walau dalam impian, tapi aku merasakan dambaku dan bahagiaku .....9 Juli 2010.

Juwita merana ...
karena bulan mengikis cahaya di pelataran sabitnya
laga tak lagi meraup rona
halimun batin menutup tawa
lara mengintip di balik kelopak gulita
pasrah juwita pada noda yang tercipta
terkubur pilu dalam lumpur dosa
sanjak rindu tak lagi membahana
terkulai lemah tak bernyawa
sesal tak bermakna memonopoli raga
petikan harpa tentang lara cinta
menjadi sonata masa lalu Sang juwita ... 11 Juli 2010

Langit berkerudung awan kelabu
Rinai hujan melukis alam senja
Gemuruh petir mengiringi kepergian mentari
semakin larut hati bermakna sunyi
hanya berharap tiupan Sang Angin
membisiki salam cintaku untuknya
Merintih Tubuhku mengenang ragamu
Menggelinjang hati mendamba hadirmu
Wahai kau Pangeran Tengah Malamku
Rinduku berlumut pada detak jantungku
Jamahlah kembali tiap tetes airmataku
Yang kusemprotkan ke jiwamu
Dan tubuhku tergolek indah
Saat eranganmu mendekap jiwaku
Tiada kata yang terucap
Hanya degup jantung kita
mewarnai kemilau kasih asmara ... 18 Juli 2010

Jangan tangisi sebuah kisah
apalagi menangisi seseorang yang tidak memilih hidup bersama kita
biarlah dia pergi atas keinginannya
apalagi jika dia tidak pernah merasakan senang dan bahagia saat bersama
Biarlah jika aku tidak pernah ada dalam lembaran kenangannya
Perih yang kurasakan semoga mengilhamiku untuk selalu tegar ... 20 Juli 2010

Rembulanku, hatiku perih dan menangis
saat mengenang kisah yang pernah kau ukir dalam memory batinku
bagiku semua teramat indah,
hingga aku tidak dapat melupakan begitu saja
nyanyian rindu yang pernah kau nyanyikan untukku
walau tak satu bab pun cerita kita yang membayangimu
kau buang begitu saja, seperti bungkusan makanan ... 21 Juli 2010

Pesona dirimu kuat mengikat batinku
Tak ingin gelisahnya jiwaku,
mengharapkan kau jadi milikku
karena hanya kepedihan yang akan terasa
seperti detik-detik yang lalu yang telah kita jalani ... 21 Juli 2010

Detak jantungku, memanggil nafas Sang kekasih
untuk berpagut dalam aroma kasih
deru asmara melambungkan nafsu
hingga bergelora sampai ke sumsum
oh cintaku, mari rasakan dan nikmatilah
hingga akhir hayat kita .... 23 Juli 2010




Rabu, 11 Agustus 2010

Pekan Gawai Dayak KalBar di Pontianak



Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Setelah SEKBERKESDA terbentuk, maka dibuatlah Pergelaran Seni Budaya Dayak yang diadakan di Gedung Arena Remaja pada tanggal 20 Mei 1986, dengan Judul SEMALAM DI PEDALAMAN. Inilah GAWAI DAYAK pertama kali di Kota Pontianak. Pelaksanaan kegiatan hanya 1 (satu) hari saja sampai dengan tahun 1992. Mulai tahun 1993 sampai sekarang GAWAI DAYAK diadakan selama 4 (empat) hari atau lebih dengan nama PEKAN GAWAI DAYAK.
Pengambilan tanggal 20 Mei selain bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, juga karena mengingat SK Gubernur Kadarusno tahun 1976 tentang Pengaturan Gawai (Pesta Padi) masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.

Tadinya Gawai Dayak hanya menampilkan atraksi seni baik berupa tarian, teater, solo lagu dan vocal group, namun semenjak Gawai Dayak yang satu mlam diubah menjadi Pekan Gawai Dayak, maka materi acaranya bertambah dan tidak saja menampilkan atraksi tapi juga diadakan perlombaan, mulai dari Kesenian (tari, pop singer, bujang dara Gawai, lomba busana kreasi dayak) sampai kepada permainan rakyat (sumpit, gasing, dsb).
Sejak Gawai dayak berubah menjadi Pekan Gawai Dayak, pelaksanaannya lebih sakral, satu hari sebelum acara PGD di mulai dilaksanakan  upacara adat Ngampar Bide (Upacara adat dari sub suku Dayak Kanayantn). Pada Pembukaan PGD juga dilaksanaan Upacara Adat Terima Tamu dan juga pada hari kedua dan seterusnya pada PGD dilaksanakan upacara-upacara adat dari berbagai sub suku dayak di Kalimantan Barat.

Dibawah ini kami sampaikan nama-nama yang pernah menjadi Ketua Panitia pada GAWAI DAYAK adalah sebagai berikut :

1.Tahun 1986 Ketua :Drs. F.Sintan Panggilingan (Sgr. Sari Budaya)
Sekretaris : Yosef Odillo Oendoen
Tempat :Gedung Arena Remaja

2.Tahun 1987 Ketua :Yoseph Odillo Oendoen, S.Sn. (Sgr.STEMKA)
Sekretaris :
Tempat :

3.Tahun 1988 Ketua :P. Kasimin (Sgr. Amboyo)
Sekretaris :P Regina
Tempat :Gedung Arena Remaja

4.Tahun 1989 Ketua :Dr. Regina (Sgr. Andesta)
Sekretaris :Makarius Sintong, SH, MH
Tempat :Gedung Arena Remaja

5.Tahun 1990 Ketua :Drs. Simplisius (Sgr. Bengkawan)
Sekretaris :Ringkai Yupiter
Tempat :Gedung Arena Remaja

6.Tahun 1991 Ketua :Nicodemus R. Toun (Sgr. Polakak Bulou)
Sekretaris :Eugenne Yohanes Palaunsoeka
Tempat :Gedung Arena Remaja

7.Tahun 1992 Ketua :Frederick Kuyah (Sgr. Kenyalang Gayu)
Sekretaris :
Tempat :Rumah Betang, Auditorium UNTAN

8.Tahun 1993 Ketua :Yoseph Odillo Oendoen, S.Sn.
Sekretaris :Drs. Simplisius
Tempat :Rumah Betang, Auditorium UNTAN

9.Tahun 1994 Ketua :Silvanus Sungkalang, SH (Sgr. Sari Budaya)
Sekretaris :Drs. Herman Ivo, M.Pd
Tempat :Rumah Betang, Auditorium UNTAN

10.Tahun 1995 Ketua :Drs. Herman Ivo, M.Pd (Sgr. Mayang)
Sekretaris :Drs. Yohanes Bambang
Tempat :Rumah Betang

11.Tahun 1996 Ketua :Drs. Henry Lizar (Sgr. Patih Singaria)
Sekretaris :
Tempat :Rumah Betang, Arena Remaja, GOR Pangsuma

12.Tahun 1997 Ketua :Dr. Aloysius Mering (Sgr.Hengkung Kayaan)
Sekretaris :Drs. Eusabinus Bunau
Tempat :Rumah Betang

13.Tahun 1998 Ketua :Drs. Alkani Amin
Sekretaris :Alexius, S.Sos
Tempat :Rumah Betang

14.Tahun 1999 Ketua :Yoseph Odillo Oendoen, S.Sn
Sekretaris :Drs. Yohanes Bambang
Tempat :Rumah Betang

15.Tahun 2000 Ketua :Yohanes E. Palaunsoeka (Sgr.Flamboyan)
Sekretaris :Drs. Yohanes Bambang
Tempat :Rumah Betang

16.Tahun 2001 Ketua :Drs. Yohanes Bambang (Sgr. Uyan)
Sekretaris :Tomo
Tempat :Rumah Betang

17.Tahun 2002 Ketua :Emanuel, S.Pd (Sgr. Terabai)
Sekretaris :Marselina Maryani Breman Soeryamassoeka, S.Hut
Tempat :Rumah Betang

18.Tahun 2003 Ketua :Frederick Kuyah, SE (Sgr.Kenyalang Gayu)
Sekretaris :Tomo
Tempat :Rumah Betang

19.Tahun 2004 Ketua :Sanusi Ringo (Sgr. Bangkule Rajang)
Sekretaris :Leo, SP
Tempat :Rumah Betang

20.Tahun 2005 Ketua :Tarsisius Ifan Sabandap,SH (Sgr. Patamuan B)
Sekretaris :Sabinus Melano, SP
Tempat :Rumah Betang

21.Tahun 2006 Ketua :David Dino W, S.Sn (Sgr. Senggalang Burong)
Sekretaris :Drs. F. Sudarman
Tempat :Rumah Betang

22.Tahun 2007 Ketua :Frederick Kuyah, SE (Sgr. Kenyalang Gayu)
Sekretaris :Martinus Sudarno, SH
Tempat :Rumah Betang

23.Tahun 2008 Ketua :Drs.Paulus L Denggol (Sgr.Tumenggung Buntor)
Sekretaris :Alexander, SP
Tempat :Rumah Betang, GOR Pangsuma

24.Tahun 2009 Ketua :Marselina Maryani Breman Soeryamassoeka, S.Hut
Sekretaris :Sekundus, S.Sos, MM
Tempat :Rumah Betang

25.Tahun 2010 Ketua : Fabianus Kasim
Sekretaris : Adrianus Moinam
Tempat : Rumah Betang

Masyarakat Kalimantan Barat patutlah untuk berbangga dan merasa bahagia, khususnya Masyarakat Dayak, karena pada Pekan Gawai Dayak ke XXIV pada tahun 2009 dihadiri dan dibuka oleh seorang Menteri, yaitu Bapak H. Mardyanto, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.
Selama 25 tahun pelaksanaan Gawai Dayak, baru pada saat itulah setingkat menteri dapat hadir.
Ini merupakan kerja keras dari panitia PGD ke XXIV yang bekerjasama dengan pihak pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Hadir pada acara yang berbahagia tersebut Gubernur Kalimantan Barat dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, sejumlah Pejabat di pemerintah provinsi Kalimantan Barat, Muspida, Tokoh Masyarakat antara lain Bp. Osman Sapta Odang, BL. Atan Palil, dan lain-lain.

Bapak Menteri Dalam Negeri RI begitu sampai di pagar depan Rumah Betang disambut dengan Upacara Adat penyambutan memotong Umpang oleh Sanggar Sari Budaya dan Mendagri RI di berikan kehormatan sebagai tamu untuk memotong Umpang tersebut. Kemudian Ketua DAD Kalimantan Barat dan Ketua panitia Gawai Dayak memberikan Topi Manik dan Selendang Manik kepada Mendagri RI dan Gubernur Kalimantan Barat.

Setelah pemotongan Umpang dan pemberian cinderamata selesai, Mendagri RI dan Gubernur Kalimantan Barat memasuki tempat pelaksanaan Upacara Pembukaan Gawai Dayak ke XXIV.
Upacara Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke XXIV ini di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya disusul dengan menyanyikan Lagu Mars Dayak yang diiringi oleh Paduan Suara dari Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru Pontianak
Kemudian Laporan Ketua Panitia oleh Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut
Sambutan-sambutan oleh :
1.Ketua Sekretariat Bersama Kesenian Dayak KalBar :Tarsisius Ifan Sabandap,SH
2.Ketua DAD Kalimantan Barat : Thadeus Yus, SH. M.Ph
3.Ketua MADN diwakili oleh : BL. Atan Palil
4.Gubernur Kalimantan Barat : Drs. Cornelis , MH
5.Menteri Dalam Negeri RI : H. Mardyanto, sekaligus membuka Pekan Gawai Dayak ke XXIV.

Pembukaan Pekan Gawai Dayak ke XXIV dengan ditandai pemukulan alat musik KANGKUANG sebanyak 7 kali dan setelah Mendagri memukul KANGKUANG, Gubernur Kalimantan Barat juga ikut memukul KANGKUANG tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan menyumpit balon oleh Bapak Menteri dalam Negeri RI dan Gubernur Kalimantan Barat.

Diharapkan pada Pekan Gawai Dayak mendatang dapat menghadirkan Menteri atau bahkan Presiden Republik Indonesia.

Selain Mendagri RI, hadir pula Duta Besar Tahta Suci Vatikan,Mgr. Leopoldo Girelli.
Ketua PGD ke 24 Tahun 2009 Marselina Maryani memberikan Selendang dari anyaman manik-manik sebagai kenang-kenangan untuk Mgr Leopoldo tersebut.

Hadir pula pada PGD ke 24 tersebut, saudara-saudara kami satu suku dari Negeri tetangga yaitu Rombongan Sarawak National Dayak Union (SDNU, rombongan sebanyak 35 orang di pimpin langsung oleh bapak Dr. Jhon Brian. Kemudian rombongan Kabupaten Sanggau yang berjumlah 30-an orang, yang dihadiri oleh Ibu Wakil Bupati Ny. Paulus Hadi, Kepala Dinas Pariwisata Sanggau Bpk Drs. Paulus Krose Oyot bersama Ibu, Rombongan Kabupaten Sekadau yang berjumlah 25-an orang, Rombongan Kabupaten Sintang sekitar 25 orang, Kabupaten Landak, Kabupaten Melawi, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten Kubu Raya

Memang agak berbeda dari biasanya Pekan Gawai Dayak pada tahun 2009 ini, selain Ketua PGD adalah seorang perempuan, juga PGD ke 24 dihadiri Menteri, Duta besar Tahta Suci Vatikan, Rombongan SDNU, juga Muspida Kalbar yang hadir cukup lengkap, bahkan bapak Kapolda Kalimantan Barat Bp. Erwin L Tobing, berkunjung ke Pekan Gawai Dayak sebanyak 4 kali, sesuatu yang luar biasa, karena sebelumnya perhatian pejabat terhadap Pekan Gawai Dayak sangat minim, bahkan boleh dikatakan kurang perduli.
Masyarakat Dayak merasa bahagia karena seni dan budaya dayak sudah mulai di perhatikan oleh orang yang bukan berasal dari etnis Dayak.

Demikianlah cerita tentang Gawai Dayak dan Pekan Gawai Dayak, semoga Pekan Gawai Dayak ke depan, akan lebih baik lagi dan lebih variatif.
Dan kepada pemerintah provinsi untuk bisa mengakomodir para pemenang lomba pada Pekan Gawai Dayak, seperti Bujang Dara Gawai misalnya dapat digunakan dalam menerima tamu-tamu daerah di Kalimantan Barat ini. Pengiriman di bidang seni tari ke luar daerah atau mancanegara, bisa menunjuk pemenang lomba tari pada Pekan Gawai Dayak dan juga bidang lainnya, karena penilaian atau penjurian dalam perlombaan pada Pekan Gawai Dayak sangat selektif. Untuk itu diharapkan dapat bekerjasama dengan SEKBERKESDA Kalimantan Barat.

Catatan :
Ditulis oleh Marselina Maryani

Sabtu, 06 Februari 2010

SUKU DAYAK TAMAN KAPUAS HULU

Masyarakat Daya' Taman (Banuaka') merupakan salah satu dari bagian umat manusia yg diciptakan Tuhan (Allatala) di Pulai Kalimantan tepatnya Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan barat yang telah tinggal dan bermukim secara menetap, hidup dari generasi ke generasi dalam wilayah-wilayah ulayat adat dan tersebar :
1. Di aliran Sungai Kapuas meliputi anak sungai Kedamin, Paragi, Palo, Saus, Sayu Kecamatan Putusibau     Selatan dan Kecamatan Hulu Kapuas.
2. Di aliran sungai Mandalam meliputi anak sungai Anak Mandalam, Samus dan Danau Sadong Kecamatan Putussibau Utara.
3. Di aliran Sungai Sibau meliputi anak sungai Taman Tapa, Sungai Kapuas, Jolo, Sepandan, Sungai Mapuri, Sungai Potan, Sungai Long Gurung Kecamatan Putussibau Utara.

Keberadaan masyarakat wilayah ulayat adat ini tidak terlepas dari keberadaan masyarakat adat Taman di muka bumi ini yang sampai sekarang masih eksis dengan peradapan leluhurnya di mana Wilayah ulayat telah ditetapkan berdasarkan sejarah pembukaan tanah pemukiman pertama dan kesepakatan bersama melalui perjanjian adat bersama Masyarakat Adat lainnya yang meminta untuk hidup berdampingan dengan masyarakat Adat Taman, yang terletak di batang Sungai Kapuas, Mandalam, Banua Sio dengan batas-batas yang telah diberikan dan ditentukan saat menerima masyarakat lainnya untuk hidup berdampingan selaku masyarakat adat.

Masyarakat adat Daya' Taman berdasarkan sejarahnya dari sejak dulu kala telah memiliki struktur, adat istiadat, nilai, norma, religi, hukum adat, seni dan budaya yang sejak dahulu telah tertata dengan baik sehingga adalah wajar jika masyarakat Adat Taman sejak dulu disebut "TURI" oleh suku etnis lain, "TURI" artinya Tuari atau mentuari yang berarti manusia yang pola hidupnya telah tertata, terpola dengan suatu tradisi dan budaya khas.

Dalam berprilaku sehari-hari, masyarakat adat Daya' Taman semuanya terikat oleh adat dan istiadat, sebagai Masyarakat Adat perbuatan yang merupakan kewajiban, hak, wewenang yang harus dilaksanakan dan laranagn yang harus dihindari menurut ketentuan adat. Jika terjadi pelanggaran, maka siapapun mendapat sanksi hukuman/denda Adat. Bentuk hukuman atau denda tergantung pelanggaran yang dilakukan seseorang dan berupa keharusan melakukan sesuatu yang wajib dilakukan oleh pelaku/terhukum dan yang diterima sebagai ganti rugi oleh korban pelanggaran Adat yang ditetapkan berdasakan putusan sidang Adat.

Dari sejarah keberadaan dan perkembangannya masyarakat daya' Taman emngenal adanya struktur atau penggolongan dikalangan warga masyarakat adat dan ini merupakan ciri tersendiri dan identitasnya sebagai masyarakat adat Daya' Taman. Struktur dan penggolongan ini pulalah yang menjadi landasan penataan pranata sosial dan budaya di dalam kehidupan warga masyarakat adat. Adapun penggolongannya adalah sebagai berikut :
1. Golongan pertama adalah SAMAGAT
2. Golongan Kedua adalah PABIRING
3. Golongan Ketiga adalah BANUA
Struktur dan penggolongan masyarakat Adat Daya' Taman sejak dulu penekanannya lebih kepada pemberian kepercayaan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab untuk memimpin bersama warga masyarakat dalam satu komunitas hidup bersama dalam satu atap bangunan rumah yang dikenal dengan Soo Langke (Rumah Betang). Di dalam tatanan masyarakat adat Daya' Taman struktur dan penggolongan sama dengan strata/ penggolongan dalam tatanan golongan ningrat.

Dalam proses kehidupan masyarakat adat Daya' Taman, pemegang (pimpinan) Hukum Adat Tertinggi adalah Tamanggong. Ditingkat desa / dusun adalah Kepala/Ketua Adat. Tamanggong (Indu Banua) dipilih dan diangkat oleh masyarakat adat tanpa membeda-bedakan golongan, keturunan dan keluarga.
Cara pemilihan Tamanggong dan masa jabatannya diatur sesuai dengan ketentuan adat yang merupakan hasil kesepakatan masyarakat Daya' Taman melalui musyawarah adat masyarakat Daya' Taman.

Di setiap desa maupun dusun atau Soo (Rumah Betang) terdapat Toa (Ketua Adat) yang berwenang untuk memutuskan perkara jika terjadi pelanggaran, Jika perkara tidak bisa diselesaikan oleh Toa (Pemuka Adat) di desa maupun dusunnya masing-masing, maka dihadirkan seorang Tamanggong untuk menyelesaikan / memutuskan perkara.

Pola hidup warga masyarakat Daya' Taman yang sifatnya menetap adalah Agraris (Pertanian) dengan usaha tani, tanaman pokok adalah padi (Oryza Sativa L.) dengan sistem ladang berpindah dengan siklus 7 (tujuh) - 10 (sepuluh) tahun untuk ditanami kembali dengan pola seperti ini, tidak mengherankan bahwa disepanjang aliran sungai tempat pemukimannya, warga masyarakat adat memiliki lahan atau tanah pertanian yang banyak dan tersebar dengan istilah Koson Parimbaan, Balean Soo / Pambutan, yang meliputi wilayah-wilayah hutan suaka marga satwa, hutan perburuan dan hutan cadangan untuk meramu (mencari) bahan bangunan dan mengambil hasil-hasil hutan ikutan lainnya.

Untuk kelangsungan keberadaan dan eksistensi lahan parimbaan dan lahan pambutan sebagai hak ulayat masyarakat adat Daya' Taman, pewarisan nilai-nilai sosial ekonomi dan budaya serta harta atas tanah dan segala sesuatu yang ada diatasnya, baik yang telah menjadi milik bersama keturunannya ataupun tanah yang sudah diwakafkan untuk kepentingan pelayanan umum serta harta lainnya diatur dalam kesepakatan-kesepakatan dengan azas kekeluargaan dalam keluarga segaris keturunan, keluarga yang bersangkutan.

Hak anak laki-laki dan anak perempuan di dalam tatanan masyarakat adat Daya' Taman adalah sama (bilateral). Anaka jait/anak angkat juga berhak memiliki tanah warisan, tetapi diberi hak mengelola, menjaga dan menikmati hasilnya sepanjang yang bersangkutan masih membutuhkannnya.

Masyarakat adat Daya' Taman di dalam tatanan kemasyarakatan adat mengenal dan memiliki, lambang dan simbol-simbol sebagai identitas kesukuan tersebut :
1. Pakaian atau busana (pakaian adat) pria dan wanita dengan segala aksesorisnya melambangkan kreativitas dan kreasi sebagai apresiasi terhadap raga manusia serta cita rasa estetika atau keindahan, yang penggunaannya juga disesuaikan dengan aktivitas dan kegiatan yang terjadi di dalam lingkaran kehidupan warga masyarakat adat.
2. Tambe atau bendera, yang melambangkan eksistensinya sebagai kelompok masyarakat adat yang berdaulat atas wilayah-wilayah ulayat adat sebagai sumber kehidupan dan penyelenggaraan pengaturan penataan tatanan pranata sosia, ekonomi dan budaya. Tambe atau bendera mempunyai ukiran tersendiri, ada yang berukiran naga dan di dalam makanan naga serta ditambah dengan betuk ukiran khas daya' Taman disamping bendera atau tambe, ada anak tambe atau tambe daun unti/papanji. Warna-warna, simbol-simbol, bentuk dan ukuran serta penggunaannya memiliki isyarat dan makna dalam kebudayaan masyarakat adat Daya' Taman.
3. Benda-benda pusaka sebagai simbol kekuatan supranatural seperti gunsi (tempayan), batu balien/batu balian (batu atau wujud lain benda) yang memiliki kekuatan gaib serta karue dan senjata tajam seperti basi apang, nyabur (mandau), bua' tung (parang), bulis (tombak) dll, diberi penghargaan yang istimewa dan dipelihara serta diyakini dapat menangkal kekuatan-kekuatan jahat yang dapat mengganggu keselamatan, ketentraman dan kemakmuran dalam masyarakat.
4. Benda-benda kesenian seperti alat-alat musik dalam bentuk tetabuhan, terdiri dari gantungan, tawak, babandi, galentang, kangkuang, tung, gendang, suling, balikan, kolodi' yang dalam masyarakat adat Daya' Taman sebagai ungkapan cita rasa perasaan atau suasana hati dan perasaan yang paling estetis dalam persatuannya dengan alam lingkungan, dengan sesama masyarakat dan Sang Pencipta.

Gambaran umum di atas adalah bagian besar dalam lingkaran hidup masyarakat adat Daya' Taman di dalam penataan pranata kehidupan sosial, ekonomi dan budayanya yang melahirkan kesepakatan-kesepakatan dan aturan main yang dihayati bersama dan diformalisasikan dalam bentuk aturan adat istiadat dan hukum adat.

Sumber :
1. Baroamas Jantingmasuka
2. ID. Soeryamassoeka
3. Buku adat istiadat dan hukum adat Daya' Taman
4. Eugenne Yohanes Palaunsoeka