Rabu, 10 Oktober 2012

SENGKETA ROH PEREMPUAN

Pontianak, 08 Oktober 2012 

Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut 

Nafas 3 orang pria mengitari jasadku, ketiganya menghamparkan permadani kisah dan bersujud di ranum senyuman bibirku. Kubelai kepala-kepala penawar cinta. Rasaku ingin mendekap dan berlabuh di kuil kasih di antara 3 sukma. Meliuk tubuhku memberikan rangsangan dan rohku bersetubuh dengan keinginan di mimbar cinta. Bagaikan dewi mereka letakkan diriku, pada singgah sana hati lelaki, dan kuterbius melayang tinggi, menghirup aroma kasmaran yang diperuntukkan pada diriku seorang. 


Ragam kisah kali ini tertulis dalam kitab hidupku, tercatat dalam sejarah lakuku, dan ku ingin menjalani 3 cinta ini dalam kurun waktu bersama, tak perduli akan cemooh para pengamat hidupku. Karena aku pelakon kisahku, dan aku mampu untuk melakoninya hingga selesai dan bermuara ke arah mana arus hidup membawanya. 

Jangan pernah persalahkan sosokku sebagai perempuan, karena aku bukan pemikat dan penawar dahaga. Aku hanya tersenyum dengan mata dan bibirku, dan keindahan tubuhku memancarkan seksualitas untuk mereka. Gemulaiku menghipnotis para lelaki dan mereka berlomba ingin menyibak gaunku. Ini semua merupakan keinginan mereka, bukan godaku, mereka yang memulai, bukan aku. Aku hanya memetik mawar cinta yg mereka persembahkan untukku. Aku hanya mencicipi anggur kasih yang mereka sodorkan di bibirku. Aku hanya dan hanya.

Ketika Lembah lembab itu ingin di belai, ketika hasrat sudah menodai sadar, yang ku ingat hanya kenikmatan yang terindu dan ini bisa terjadi karena kekosongan hati yang tak terisi oleh jemari-jemari kokoh. 

Rohku menjelajahi jasad-jasad kaum adam, dan 3 raut sekaligus termiliki dan terdekap. Mereka dalam genggamanku dan awalnya hanya sebagai pemberi kenikmatan yang di butuhkan tubuh. Dan awal yang sering tak sejalan dengan perjalanan dan akhir. Keinginan hanya untuk menikmati kandas bersama hadirnya iba dan cinta. Bagaimana harus menjalani dengan 3 cinta sekaligus. Permainan ini semakin bahaya dan berbahaya. Semakin larut dalam kemasan asmara, tiada tara rasa di dada, selalu merasa ada yang membutuhkan. 

Namun ketika 3 cinta ini mulai berkeinginan memiliki hidupku, ketika 3 cinta ini mulai mempertanyakan tujuan hidupku, gelisah meraup wajah dan hadirku. Mulai berbagai alasan kucipta untuk pertanyaan demi pertanyaan dari 3 cinta. Terlebih, ketika sosok-sosok para pecinta ini mempertanyakan keseriusanku dan ada sosok yang ingin memiliki ku seutuhnya, dan sosok lainnya pasrah saja akan pilihan dari aku seorang perempuan. Jawaban apa yang akan kuberikan, resah menjadi tamu yang hadir dalam roh. Kemanapun pergi 3 bayang ini hadir menuntut jawabku. 

Fery, sang sosok yang mengajakku untuk hubungan yang serius, berhadapan dengan Dimas sosok yang ingin memilikiku seutuhnya, mereka menjadi bersengketa karena memperebutkan seorang perempuan dan akhirnya membuatku bingung dan jalan apa yang harus ku tempuh.  

Namun kedua sosok tersebut tak bergeming saat menghadapi Arsyaad sosok pria yang pasrah, pria yang hanya menyerahkan hatinya dengan penuh sederhana dan tak menuntut apapun selain kebahagiaan dewi yang dicintainya. Kepasrahan Arsyaad tak membuatku takluk, aku cuma iba pada kebaikan hatinya. 

Dan justru yang terpilih oleh hati adalah Dimas, pria yang ingin memiliki ku seutuhnya, dengan kekasaran dan caci makinya kulepaskan semua penutup tubuh hingga darah yang mengalir terlihat olehnya. Ku genggam erat sosok yang kasar ini, bagai bayi ia kuperlakukan, kumanja dan ku cumbui setiap waktu. Walau hinaan dan pukulannya menyiksa hati dan tubuh, tapi dialah laki-laki pilihan perempuan bodoh seperti ku. Kunikmati tubuhnya dengan sentuhan kasih mesra, kuhangati hatinya dengan ciuman yang tak berkesudahan. Rela mengorbankan waktu dan harta untuknya, yang penting hatiku terisi oleh bunga asmara dan rohku melayang ke puncak-puncak bahagia. Api cemburu selalu menyulut perjalanan cinta kami, hingga pertengkaran membahana, bermunculanlah bilur-bilur pada tubuhku dan setelah reda angkaranya bilur itu di belainya dengan lidah cintanya. Variasi cinta yang kutemui selalu hadir di antara aku dan Dimas, pria penuntut cintaku seutuhnya. Mengapa justru aku lebih merasa bahagia dengan jiwa yang gila. Apakah kegilaan sudah merasuki Roh Perempuanku. Sungguh tak ada yang bisa mengerti hati yang memilih pria gila ini. 

Fery si pria yang serius, ku abaikan begitu saja, namun tak juga ku melepasnya. Permainan cintanya sungguh menggebu, tapi aku muak akan pengertiannya yang berlebihan. Adakah cinta yang akan terus menghangatkan hubungan yang kaku ini. Bijak dan dewasa meronai alam kisah dengan pria ini, sangat membosankan namun tak cukup kuat untuk ku melepaskannya. 

Kini bagaimana aku harus bersikap, raga dan rohku sangat menikmati permainan yang tercipta ini, sangat memukau dan luar biasa, tak banyak perempuan seperti aku yang menaklukkan 3 hati lelaki dalam waktu bersamaan. Begitu disayangkan jika aku harus melepaskan diantara kenikmatan yang telah ku rengguk. 

Dan persengketaanpun akhirnya terjadi, di kala pertemuan 4 nyawa hadir untuk membicarakan bagaimana kelangsungan kisah gila yang sudah kulakoni ini. 2 di antara 3 pria itu berseteru, dan Arsyaad pria yang biasanya pasrah pada diriku menengahinya. 
Dengan bijak dia berkata : “Mari kita bicara secara terbuka dan dewasa, sebelum kesabaran ini mati dan kemarahan naik ke ubun-ubun kepala. Bukan hanya kalian yang punya amarah, aku juga bisa menghunus kemarahanku sampai ke jantungmu,” “Tapi buat apa kita saling mengumbar amarah,... emmmhhh... kita menjadi seperti sosok anak-anak yang saling bertengkar memperebutkan dan mempertahankan kepemilikan masing-masing, malulah kepada sekitarmu kawan, ... ingat .....!!! ini kisah gila yang terjadi.” 
Dia berkata dengan nada yang datar tanpa emosi, sambil dia menunjukku dengan telunjuknya, matanya menatapku tak berkedip, menusuk hingga belulangku lunglai dan tak mampu untuk berkata apapun lagi, dan katanya lagi : “ Dik, kamu tidak perlu takut dan cemas, hadapi ini semua, kamu berani memulainya, berani juga mengambil resikonya dan berani untuk mengakhiri, kamu jangan pernah lagi untuk menunda suatu keputusan tentang ini dik, kuatkan hatimu dan ambillah sebuah jawaban.” 

Kemudian Fery yang pernah serius meminang ku berkata : “ Rosha, Kau harus bisa memilih diantara kami bertiga sekarang ini, ingatlah bahwa aku pernah memberikan cincin berlian sebagai tanda jadi hubungan kita, dan ingat juga segala kebaikan yang pernah kuberikan padamu.” 
Tak ada lagi panggilan mama untukku seperti biasanya. Tak ada lagi suara yang selalu lemah lembut dalam canda, diskusi dan amarah. Dari kejadian ini, terlihat seutuhnya lelaki ini. 

Dan pria yang selalu mengasariku tapi sekaligus ku cintai berkata dengan khas gaya bicaranya : “Dasar pelacur, akibat pola mu ini, kami bisa saling membunuh dan ada yang mendekam di penjara, perempuan gila semacam kau tak pantas untuk ku miliki, silahkan ... kau pilih saja mereka dan tinggalkan aku, lebih baik aku menikah dengan pelacur berhati perempuan daripada perempuan berhati pelacur.” 

Kemudian .... hening, ... semua terdiam, dengan amarahnya masing-masing, ada yang meledak-ledak, ada yang berupaya bijak namun ego terselip dari kalimatnya dan ada yang tenang dalam menanggapi situasi yang sangat sulit ini. Terutama situasi yang sangat tidak bersahabat untukku. Ini akibat aku bermain api dan tak mampu memadamkannya, hingga aku ikut terbakar dan akhirnya luka akan ku jelang. 

Kembali Arsyaad berkata : “ Aku yakin, sebenarnya kita semua sangat mencintai Rosha, sampai detik inipun masih seperti itu, namun karena kecewa akan sikap Rosha kita menjadi marah, akhirnya kita mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita,.... saranku, jangan kita semakin meruncing masalah ini dan membuat luka orang yang mendengar, kita serahkan semua kepada Rosha untuk mengambil suatu keputusan.” 
“Dik Rosha....bicaralah, walau hanya satu patah kata... kami akan menghargai segala keputusanmu, walau itu sangat menyakitkan di antara kami yang tak terpilih” 

Akhirnya, dengan berupaya tegar aku berkata “ Beri aku waktu untuk menjawabnya, aku berupaya untuk membuat semuanya menjadi baik.” 

Kemudian aku berlalu dari suasana api neraka bagiku. Aku mencoba merenung dalam kamarku yang sejuk, berpikir untuk mengambil pilihan yang tersulit bagiku. Baru kusadari, setelah Pertemuan Laknat tadi, ternyata Pria yang kudambakan dan bisa mendampingiku adalah Sosok Arsyaad, Pria yang selalu pasrah itu. Tingkat kedewasaannya tinggi dan dia tidak mempermalukan aku sama sekali, di balik amarahnya, dia masih mampu untuk membela aku. Inilah Pria yang terpilih oleh hatiku, untuk hidupku. Pria yang sudah tahu jeleknya aku tapi masih mau menerimaku apa adanya dan tidak mempermalukan aku di depan umum. Pria yang masih mau menghargaiku sebagai perempuan yang sudah berkali-kali di tidurinya dan saat bersamaan di tiduri kedua laki-laki lain. Betapa Putih Hati Arsyaad, dialah laki-laki tambatan hati dan jiwa perempuan. 

Sedangkan Fery yang pernah dengan serius meminang aku, hanya mampu memojokkanku dengan satu kalimat memintaku untuk memilih dan mengungkit segala kebaikan yang pernah diberikannya untukku. Kalau dia memang serius, kenapa dia tidak menawarkan dirinya di saat aku sedang terpojok. Dia hanya memperlihatkan keegoannya saja, memang selama ini aku selalu merasa muak melihat sikap-siakpanya yang terlalu baik di tunjukkan di depanku, bagiku pria semacam ini hanya menyimpan kemunafikannya saja. 

Dan Dimas pria yang sering mengasari ku itu, perkataannya tak ada baiknya, apakah seumur hidupku akan tinggal dan hidup berdampingan dengan pria semacam ini. Apakah aku relakan tubuh molekku menjadi legam karena pukulan-pukulannya. Bagaimana jiwa anak-anakku kelak. Pria itu terlalu mengumbar amarahnya tanpa mampu untuk mengendalikan diri. Harga diriku terinjak-injak oleh perkataannya tadi. Mungkin jika aku menikah dengan dia, setiap hari aku di permalukannya dengan para tetangga dan handai taulanku. Ternyata selama ini aku hanya Merasa Cinta terhadap Dimas bukan mencintai. 

Dengan keputusan yang bulat keesokan harinya, aku mengumpulkan 3 pria itu, Fery, Dimas dan Arsyaad. Dengan tenang dan santai aku ungkapkan satu persatu isi hatiku dan keputusanku, wajahku kuhadapkan hanya pada Arsyaad Pria yang berhati Putih, yang selalu pasrah dengan keinginan-keinginanku, pria yang selalu aku bohongi di saat ia ingin bermesaraan dengan diriku.
Kataku : “ Setelah pertemuan kemarin, aku menjadi sadar, bahwa apa yang kulakukan tidaklah manusiawi dan tidak berakhlak. Tanpa kusadari, aku telah menyakiti perasaan kalian semua. Awalnya ini dari sebuah keisengan, yang akhirnya aku sangat menikmati permainan ini. Aku salah, dan kesalahanku ini tidak ada ampunannya lagi. Semua sudah terjadi, aku menyesalinya dan silahkan jika di antara kalian ingin membenciku. 
Bang Arsayaad, Rebahlah pada lekuk dadaku, 
Kau akan mendengar detak jantungku membisikkan namamu, 
Kau akan merasakan denyar cinta teralun pada tarikan payudaraku, 
Kau akan percaya bahwa hatimu yang terpilih, 
Kau mulai paham, agungnya roh ku mengitari kejantananmu 
Namun buaian kasih bersamamu tak dapat mencapai klimaks 
Karena aku tak ingin Roh ku menjadi Sengketa 3 orang pria. 

Adil kuterapkan untuk kisah ini, 
Tiada seorangpun dari kalian yang dapat memeras nafsuku lagi 
Biarlah kita semua terluka 
Tak hanya hatimu yg berdarah, Bang Arsyaad 
Hatiku dan hati mereka juga terasa perih 
Sedih dan tangis akan terbunuh oleh Sang Waktu” 

 “Selamat tinggal semua, selamat tinggal mimpi-mimpiku, maafkan atas salahku 
Biarkan aku berlalu, membawa keringnya dosa yang bertumpuk dalam pangkuanku 
Inilah akhir dari Kisah SENGKETA ROH PEREMPUAN, yang sudah ku cipta.” 


Catatan :
 - Cerita ini hanya fiktif belaka
 - Mohon untuk tidak menjiplak atau mengutip... Hargai Hasil Karya org lain

Selasa, 20 Desember 2011

RANJANG CINTA


Pontianak, 8 April 2011
Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut


Ketika Langit mengatakan malam ... aku mengatakan dingin kan menjemputku
engkau mengatakan keringatmu akan selalu menghangatkan tubuhku
ku tanya pada waktu, akankah abadi
ku tanya pada seringai malam, akankah ini kan berakhir juga
jawabannya hanya ada pada hari-hari yang akan ku jalani

Petiduranku kini penuh dengan melati dan mawar
Aromanya membuatku betah untuk selalu bermanja
Lilin Kasih di peraduan telah mencairkan kebekuan sebongkah hati
Hingga Janji ke pelaminan telah terukir
Menunggu saat yang tepat untuk meniup terompet
Agar peri cinta memainkan perannya lebih hikmat lagi

Ragaku terbungkus hasrat yang begitu membara,
Saat sentuhan kasihmu menjilatinya
Iringan rinai hujan dan derit ranjang menambah gelora yang bergejolak
Tak kan ku hentikan pertautan ini, kunikmati dan hanya dengan mu
Kekasih yang telah menyematkan anggrek kasih
Dan melukiskan mawar cinta yang indah di kalbu
Eratan pelukan semakin ku ketatkan, agar tak hilang cintaku yg selalu ku rindu

Mengapa Cinta ini bisa tergeletak di Pelataran Hatimu
Mengapa Tatapanmu mampu menghangatkan kebekuan hatiku
Sebening Air Telaga dan Seputih Awan, hatimu menyambut Sukma Cintaku
Dengan jilatan Api Kasih yang mmbara
Tak kuasa Logika menolak kebaikanmu
Ku merasa kan berdosa, bila hatimu yg SUCI kunodai dan ku permainkan

Ku tergolek d Misbah Cinta mu,
Berharap jilatan cinta merengkuh tubuhku
Dan alam sadarku tiada malu memburu rasamu
Menyenandungkan lentunan kasih dengan bilur bilur nafsu melandanya
Serasa diri kau pompa ke awan,
Melambung tinggi saat jemarimu meraba sekujur tubuh ini
Tak prduli akan waktu yg mncibiriku
Karena ku ingin mencicipi bahagia yg tergeletak d buluh-buluh batinku
Dan mataku tertutup, saat dekapanmu semakin erat,
hingga cuma HASRAT yg melingkupi raga
dan dendang detak jantung menemani deru nafas yg terus memburu
derit Ranjang mengalun nafsu yang semakin melayang

Cintamu begitu indah ... wahai Pejantan Kasihku
membuatku takjub ke angkasa
kau adalah yang paling kusayang
hanya cinta yang mmbuatku sabar dan bertahan
Dan saat Cinta melumuri Hasrat
Menjilati Lekuk-lekuk indah tubuhku
Angkara pun terjungkal dari sisi sisi jiwa
Pertautan Raga menghangatkan kasih yg mulai beku
hanya tatapan mata dan deru nafas
yg mampu menterjemahkan SYAIR ASMARA yang sempat TERTUNDA

Nyanyikanlah sekali lagi kasih, lagu cinta itu untukku,
agar ku selalu terlelap dalam dekapmu
dan nyenyakku kan mempertemukan kita
dalam impian biru di padang bunga yang sedang mekar,
harumnya kan menemani sampai kita terjaga
dan silau mentari menembus kaca jendela, membangunkan lelap kita,
membuatku menggeliat dalam pelukmu
oooohh indahnya duniaku … Indahnya Petiduran kita … Ranjang Cinta Asmara



TEMBANG LARA


Pontianak,3 Maret 2011
Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut


Dengan berat ibu melepaskan Lidya untuk pergi ke kota, sekedar mengadu nasib, karena kehidupan di kampungnya tak banyak pilihan untuk mempekerjakan perempuan yang hanya mengantongi ijazah SMP seperti dirinya. Setidaknya kalau di kota, masih banyak lapangan pekerjaan yang mau menerima dirinya menjadi tukang cuci piring di restaurant atau menjaga toko. Dan ia masih bisa melanjutkan pendidikannya jika sudah mendapatkan pekerjaan. Begitulah rencana dan cita-cita gadis cantik yang lugu ini. Dengan tekad yang bulat untuk menggapai cita-citanya, ia nekad pergi ke kota meninggalkan ibu dan abangnya yang cacat, dengan mengantongi uang hanya Seratus Ribu Rupiah, ia terus melanjutkan angan-angannya tersebut.

Nasib mujur berpihak pada Lidya, seminggu ia berada di kota, sudah mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan di sebuah cafe di pusat perkotaan. Cafe tersebut memberikan fasilitas tempat tinggal untuk karyawan dan upah yang cukup lumayan. Pengunjung Cafe itu sangat ramai, selain tempatnya memang asyik, makanannya terjangkau dan pelayanannya juga sangat baik di tambah lagi dengan Raut pelayan yang cantik dan ganteng, Sepertinya modal utama bagi calon pelayan di cafe tersebut haruslah berwajah menarik baik pria maupun wanitanya. Mungkin karena wajah Lidya yang memang sangat menarik dengan kulit yang putih bersih itulah maka ia tidak kesulitan pada saat melamar pekerjaan di cafe tersebut.

Dengan parasnya yang elok ditambah lagi dengan badan yang tinggi dan sintal, ia menjadi pusat perhatian para pengunjung. Baru sebulan bekerja saja Lidya sudah banyak di gemari oleh pengunjung Cafe. Karena begitu banyak penggemar yang selalu menanyakan Lidya dengan pemilik Cafe, maka Lidya pun menjadi karyawan kesayangan Bos, tentu saja, karena seorang Lidya dapat mendatangkan pundi-pundi untuk Bosnya.

Waktu berjalan, tak terasa tiga tahun sudah Lidya berada di kota, selama itu sudah empat kali Lidya pulang ke kampungnya untuk melihat ibu dan abangnya yang cacat. Dan penampilan Lidya juga sudah berubah, sudah bukan gadis kampung yang lugu lagi, namun sudah menjadi gadis kota yang cantik jelita.
Lidya pun sudah tak sendiri lagi, sudah ada seorang lelaki ganteng bermobil yang selalu mendampinginya. Laki-laki itu bernama Boy, bekerja di sebuah Bank Swasta. Boy merupakan putra tunggal dari seorang Politikus yang cukup terpandang dan punya nama. Boy seorang laki-laki yang baik, tidak pernah berurusan dengan Dunia Malam. Bertemu pertama kali dengan Lidya di rumah sepupunya yang berdampingan dengan Mess Karyawan Cafe dimana Lidya tinggal.
Hubungan mereka sudah setahun lamanya dan Boy sudah beberapa kali meminta Lidya untuk mencari pekerjaan lain. Hanya saja Lidya masih mempertimbangkannya, karena sebagai tulang punggung keluarga, tentu saja Lidya keberatan untuk meninggalkan tempat kerja yang menyenangkan dengan gaji yang sangat lumayan. Dari gajinya itu Lidya bisa merehab rumah ibu di kampung, membesarkan usaha jahit ibu yang dulu hanya ibunya saja yang menjahit, tapi sekarang ibu sudah punya dua puluh orang karyawan dan Lidya juga punya investasi lain di kampung yaitu kebun sawitnya seluas 30 ha, cukuplah untuk masa depan mereka sekeluarga. Sehingga Lidya belum memutuskan permintaan dari Sang Kekasih.

Sedangkan Boy selalu di tuntut oleh orangtuanya untuk memutuskan Lidya dengan alasan Status mereka yang jauh berbeda, apalagi mendengar Lidya bekerja di cafe, bagi orangtua Boy, Cafe merupakan tempat negatif.

Menjadi sebuah Dilema bagi Boy, karena di satu sisi Boy sangat menyayangi dan menghormati orangtuanya, namun di sisi lain dia juga sangat mencintai Lidya. Desakan orangtua Boy yang begitu gencar untuk memutuskan Lidya membuat Boy tertekan, bahkan Boy dikenalkan dengan beberapa anak gadis dari kolega ayahnya, membuat Boy menjadi bingung dan depresi. Dia tak mampu untuk meninggalkan Lidya.

Karena khawatir terpisahkan dari Lidya, Boy dan Lidyapun akhirnya melakukan hubungan yang hanya boleh dilakukan suami istri yang sah saja. Rasa Cinta yang begitu kuat dan desakan takut kehilangan telah membutakan keduanya. Dan betapa bahagianya Boy karena dialah lelaki pertama yang telah merenggut keperawanan Lidya. Berulangkali mereka lakukan hal tersebut, tanpa mereka sadari awal bencana telah mereka ukir dalam kehidupan mereka berdua.

Suatu hari Lidya merasakan badannya panas dingin, mual dan tidak ada nafsu makan. Tiga hari sudah ia tidak masuk kerja. Duh, sakit apa aku ini, pikir Lidya, sudah minum obat flu, kok masih juga sakitnya, malah tambah parah. Lidya pun memberitahukan keadaan dirinya pada Boy lewat pesan di handphone Boy, segera Boy meluncur ke tempat tinggal Lidya, Boy pun membawa Lidya ke rumah sakit untuk di periksa, dan betapa terkejut keduanya mendengar diagnosa dokter yang menyatakan bahwa Lidya sudah Hamil 2 bulan. Baru Lidya sadar bahwa dia memang sudah terlambat haid.
Dengan pikiran mantap Boy menyatakan akan melamar Lidya dan mereka harus segera menikah, Dia akan bicara dengan kedua orangtuanya. Ternyata pemikiran Boy bahwa hati orangtuanya akan luruh melihat keadaan Lidya yang hamil, salah besar. Ayah dan Ibu Boy berkeras menolak perkawinan tersebut. Bahkan Ibu mulai mengancam akan bunuh diri jika Boy tetap melanjutkan keinginannya tersebut. Boy semakin bingung, langkah apa yang harus di ambil. Sedangkan perut Lidya akan semakin besar. Tak mungkin dia membiarkan Lidya melahirkan tanpa seorang suami.

Orangtua Boy begitu cepatnya mengambil langkah-langkah untuk memisahkan Boy dari lidya, mereka sepakat untuk mengawinkan Boy dengan anak gadis dari salah satu koleganya. Tanpa minta persetujuan anak tunggalnya, Pak Prapto ayah Boy segera menetapkan hari pernikahan untuk anaknya.
Dan Suriati (ibu Boy) pergi ke mess Lidya dan mencaci maki Lidya, bahkan Suriati berkata sebaliknya kepada Lidya bahwa sebenarnya Lidya sudah merebut Boy dari Tunangannya, Amelia. Dia mengatakan bahwa Amelia sedang mengandung anak Boy. Lidya hanya mengaku-ngaku bahwa Boy sebagai ayah dari janinnya padahal itu merupakan janin dari berbagai laki-laki yang tidak jelas.
Suriati juga menegaskan bahwa Boy malu punya calon istri pekerja Cafe seperti Lidya, selama ini Boy hanya mencari pengalaman lain saja sebelum menikahi Amelia. Begitulah kata-kata yang di lontarkan Suriati kepada Lidya dengan berteriak-teriak, sehingga beberapa karyawan yang ada di mess tersebut menyaksikan keributan tersebut. Apalagi banyak teman-teman Lidya yang iri dan sirik melihat kecantikan lidya dan posisinya yang di senangi Pemilik tempat mereka bekerja. Mereka yang sirik tersebut, tersenyum dan memberitahu kepada Boss lewat Handphone mereka.

Keesokannya Lidya di panggil Sang Bos, karena Lidya hamil, ia di minta untuk menulis surat istirahat, karena Cafe tersebut tidak mempekerjakan karyawan yang hamil, itu alasan dari Boss secara halus untuk memberhentikan Lidya dari Cafe itu. Betapa sedihnya hati Lidya, duka berundung datang menimpanya. Belum lepas dari ingatan bagaimana ibu Boy telah mempermalukannya, sekarang ia harus menerima bahwa ia tidak bekerja lagi, sedangkan masih banyak kebutuhan di kampung yang memerlukan support dana dari dirinya, antara lain membayar karyawan yang merawat kebun sawitnya dan pelebaran usaha konveksi ibu.

Tak sanggup rasanya aku menjalani masalah ini semua, pikir Lidya. Apalagi sejak ibu Boy melabraknya, Boy tak bisa di hubungi lagi. Berbagai jalan Lidya coba menghubungi Sang Kekasih, namun jalan buntu yang di dapat. Boy tak jua bisa di temui.
Janin dalam perutnya itu yang membuat Lidya menjadi bingung. Bagaimana harus mengatakan pada ibu. Bagaimana caranya ia harus memandang wajah ibu yang pasti terluka. Anak yang di banggakannya selama ini, yang dia yakini bahwa anaknya bekerja dengan halal, ternyata pulang dengan membawa janin dalam perut yang tiada berayah.
Ooooh ibu, maafkan anakmu, tapi sungguh demi Tuhan, semua hasil yang ku berikan padamu adalah Hasil jerih payahku bu, tangis Lidya dalam hati. Tak terbayangkan olehnya, bagaimana penduduk kampung yang iri dengan keluarga mereka akan menghina ibunya. Semua tak sanggup untuk dijalani dan dihadapi. Sehingga Lidya mengambil suatu KEPUTUSAN sendiri.

Dengan airmata berderai di pipinya, Lidya menulis sepucuk surat untuk Boy, dalam surat tersebut, Lidya mengungkapkan perasaannya setelah mendengar cerita dari ibu Boy, Lidya juga meminta maaf pada Amelia tunangan Boy, karena selama ini ia telah merusak hubungan mereka.
“Teriring RESTU untuk mu bang, yang penting kau bahagia bersamanya.. Salam hormatku tertanda yang selalu mencintaimu" ... Sebaris akhir penutup surat cinta untuk kekasihnya, yang telah d relakannya untuk pergi.
Lidya, seorang gadis bermata sipit, berparas elok dan berbadan sintal, datang dari desa, dengan kemiskinannya ia berjuang pada gemerlapnya kota, tapi hiruk pikuk kota tak pernah bersahabat untuk gadis selugu dia dan kini ia tak sanggup menerima cintanya yang kandas oleh seorang pemuda kota.

Empat hari sudah Boy meninggalkan kotanya bersama kedua orangtuanya. Dia tidak pernah tahu bahwa orang tuanya telah membuat skenario perpisahannya dengan Lidya. Dia dijemput di kantornya secara mendadak, dikatakan bahwa ibunya sakit dan perlu di bawa ke Jakarta untuk berobat dan Boy diminta mendampingi ibunya bersama ayah.

Karena Boy memang anak yang patuh dan sangat menyayangi orangtuanya, maka tanpa berpikir apa-apa lagi ia segera minta ijin dengan kantornya untuk menemani ibu berobat selama satu minggu. Karena harus buru-buru pergi, handphone dan dompet Boy pun tertinggal di dalam laci meja kantornya. Sehingga ia tidak dapat menghubungi kekasihnya Lidya.

Apa kabarmu sayang, jaga baik-baik anak kita ya, kata Boy dalam hatinya sambil tersenyum bahagia membayangkan seorang bayi yang akan menjadi anaknya. Emmhh, sebentar lagi aku akan menjadi ayah, demi seorang bayiku, terpaksa aku sekali ini tidak patuh padamu ibu dan ayah. Aku akan mempertanggungjawabkan segala perbuatanku. Lidya adalah gadis pilihanku. Walau kalian berdua tak mengakuiku sebagai anak lagi, tapi itulah kenyataannya. Karena aku sekarang sudah menjadi laki-laki bukan anak laki-laki lagi. Semoga kalian mengerti akan perasaanku, perbuatanku dan pilihanku nanti.

Beberapa jam kemudian Pak Prapto, ayah Boy menerima telfon dari Wisnu keponakannya atau sepupu Boy yang tinggal di sebelah Mess Lidya. Wisnu ingin berbicara dengan Boy.
Awalnya Pak Prapto enggan memberikan telfon genggamnya kepada Boy, namun karena Boy di dekatnya dan mengerti bahwa ada yang ingin bicara dengannya, akhirnya Pak Prapto pun memberikan telfon genggam tersebut kepada Boy.
Setelah Boy menerima telfon tersebut, betapa terkejutnya Boy menerima Berita Kematian Lidya dari Wisnu. Langit terasa gelap, kepala Boy berputar.
Oh mimpikah aku, atau Wisnu berbohong atau bercanda. Aku harus segera pulang, pikir Boy.
Dan pikirannya itu di ungkapkan kepada ayah. Awalnya ayah tidak setuju. Sempat terjadi bersitegang antara Boy dan ayahnya. Boy mengancam akan lompat dari jendela hotel jika ayah tidak mengijinkannya pulang.

Akhirnya Suriati, ibu Boy mengajak Prapto dan Boy untuk pulang, karena Suriati berpikir orang yang harus tersingkir telah menyingkirkan dirinya sendiri, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.

Boy meraung melihat jenazah kekasihnya. Dipeluk ciumnya wajah yang sudah tak bernyawa itu.Sayang mengapa jalan ini yang harus kau tempuh. Mengapa tidak sabar menungguku. Sedang Boy bersimpuh pada jasad Lidya, Dewi sahabat Lidya memberikan sepucuk surat padanya. Ragu Boy menerima surat itu. Namun akhirnya diterimanya juga surat tersebut dan langsung dibacanya. Betapa terkejutnya Boy membaca ungkapan Fitnah ibunya kepada Lidya. Ternyata kebohongan ibunyalah yang telah membunuh Lidya.

Boy berdiri dari tempatnya bersimpuh sambil berteriak histeris dan menunjuk ibunya “Ibu, selama ini aku sangat hormat padamu, ternyata ibu hanyalah seorang ular yang licik, aku tidak bisa menerima perlakuanmu ini dan ibu tidak akan pernah melihatku lagi selamanya, karena aku akan menyusul Lidya dan anakku”.

Setelah berteriak, Boy lantas berlari ke jalan dengan membabi buta tanpa melihat kendaraan yang sedang melaju, Boy pun menabrak sebuah sebuah mobil dan terlempar ke trotoar. Darah segar mengalir dari kepalanya. Ayah, ibu dan yang lainnya yang menyusul ingin menyelamatkan Boy, tak bisa berbuat apapun, karena nyawa Boy tak dapat di selamatkan lagi, walau demikian segala usaha dari kedua orangtuanya tetap dilakukan.
Boy di bawa ke rumah sakit terdekat, namun dokter IGD memastikan bahwa Boy sudah meninggal. Pekik jerit sang Ibu tak dapat membangunkan Boy. Penyesalanlah yang selalu hadir terlambat.

Lidya dan Boy, dua kekasih yang saling mencintai, dimakamkan bersebelahan. Mereka memadu kasih sehidup semati. Lidya seorang gadis yang berasal dari kampung yang ingin mengadu nasib di kota, akhirnya menemukan Perjalanan Akhir Hidupnya yang mengenaskan. Sedangkan Boy seorang Pemuda Kota, laki-laki yang baik dan patuh terhadap orangtua, berpendidikan dan sudah mapan, namun tidak cukup mapan ketika berhadapan dengan cinta.

Dan Suriati, seorang Ibu yang terlalu melindungi anak laki-lakinya akhirnya tak cukup kuat untuk kehilangan anak semata wayangnya. Depresi berat menimpanya, kejiwaannya terganggu hingga harus di rawat inap di Rumah Sakit Jiwa.

Sedangkan Prapto seorang Politikus yang ganteng dan ternama, akhirnya menderita stroke, terlalu banyak beban yang mendera menyebabkannya terserang stroke. Ketika Suriati di rawat di RSJ, Prapto menikahi perempuan yang sudah 7 tahun menjadi simpananannya. 2 tahun setelah menikahi istri mudanya tersebut Prapto menemukan bahwa perempuan itu telah memperdaya dirinya, hanya menguras hartanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain.

(Cerita Fiksi, jika ada nama, cerita dan tempat yang sama, ini hanya kebetulan saja)

Sabtu, 16 April 2011

Di Balik Sebuah Ketegaran

Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Sisca seorg p'puan yg senang berorganisasi...
darah organisasi mmg mengalir deras dlm tubuhx...
trbiasa hidup d lingkungan keluarga yg mncintai organisasi n politik...
dan sudah belasan tahun Sisca menggeluti dunia organisasi....
dlm lingkungan organisasix, trkdang Sisca satu2x prmpuan....
tp Sisca tdk merasa risih....bahkan terus maju dg d dukung oleh teman2 organisasix....
Teman2 organisasi Sisca tdk pernah mmbedakan jenis kelamin....
Terlihat dr beberapa x Sisca terpilih mnjadi pengurus inti dlm suatu organisasi...
Begitu jg dlm kepanitian suatu acara, Sisca sll menduduki tempat2 strategis....
Sisca sll berupaya menjaga kepercayaan yg d berikan teman2x...
Dengan menjaga n meningkatkan kualitas kinerjax n etika dlm berorganisasi....
Juga sll mnjaga kejujuran...krn mmg itu hal yg trpenting yg sll d pesan oleh org tua Sisca.....

Itulah Sisca dan talenta yg sudah Tuhan berikan utx....
krn tdk semua org pny keinginan n rasa ut mengabdikan diri ut kehidupan sosial n politik....
tanpa pamrih uang....tanpa balasan apapun....
bahkan trkadang Sisca harus merogoh kocekx ut kegiatan organisasix....
trkadang juga menerima caci maki dr org lain ...hinaan....bahkan isu2....
cibiran dari org2 yg sirik......yg mungkin tujuanx ut mematahkan semangat Sisca
tp Sisca terus berjalan .....memasang muka tebal... terus berbuat n beraktivitas...
Sesuai dg mottox yaitu AKU DATANG UT MELAYANI BUKAN UT DILAYANI......

Di lingkungan rumah...Sisca melakukan pekerjaan rumahx sendiri...
wl ada pembantu d rumah......
namun sehari2 masih mencuci pakaian sendiri tanpa mesin cuci.....
masih memasak n melakukan pkrjaan rmh lainx...d sela2 kesibukanx berorganisasi n bekerja.....
kl Sisca ada d rumah...dialah yg melakukan pkerjaan2 rumahx.....
Sisca berupaya ut bisa mmbagi waktu antara kerja, organisasi n rumah....
Melihat Sisca yg ulet, keras, tegas n tegar itu.....bnyk org menjulukix Xena.....

Tapi tdk ada satu org pun yg tahu...sebenarx Sisca tdklah sekuat Xena....
betapa rapuhx hati Sisca d balik ketegaranx itu....
Betapa lemahx Sisca dibalik kerasx hati n kepala yg sll d tampakkanx....
Tidak ada org yg tahu.....hati Sisca tidak kuat mndengar caci n maki serta cibiran org....

Kadang caci maki n iri hati dr org2 itu mmbuat Sisca frustasi....
Begitu banyk yg bermaksud mncemarkan nama baik Sisca....
tp Sisca selalu berupaya ut mnghibur dirix dg kesabaran n ketabahan....
Sisca sll hny bisa menangis d depan patung Bunda Maria....d sebuah gereja.....
sambil menyalakan lilin .... setelah itu pergi k rumah panti cacat....
Sisca sengaja memilih panti cacat...ut menyadarkan dirix sendiri bhw dia jauh lbh beruntung...
masih bnyk org2 yg tdk seberuntung dirix.....shg Sisca yg tdx putus asa,
tersadar dr pikiran yg buruk......
Saking seringx Sisca menyalakan lilin d gerja pada sore atw pagi hari sekitar j.6,
penjaga gereja sudah sangat mngenal Sisca.....
bgt pula dg suster2 d Panti Cacat...sangat mengenal Sisca....
Suster2 itu memanggilx dg sebutan kakak yg cantik n sexy.....
Tapi menurut banyak org...Sisca mmg cantik dan sexy.....
trkadang dua hal ini yg mndatangkan masalah n malapetaka ut Sisca....
Bahkan mmg menjadi sumber masalah dlm hidup Sisca....
Dan tdk bnyk org yg tau bhw Sisca sering mengunjungi Panti Cacat n menyalakn lilin d gereja....
Krn penampilanx yang "WAH", ....
bnyk org mengenal Sisca sbg seorg prmpuan aktiv dan dekat dg kemewahan...
wanita karier yg sukses dan glamour....dan royal thd uang.....
teman2x kebanyakan dari kalangan menengah ke atas....
Bnyk org heran, trmasuk kelrgx .... jika tau Sisca mau mkn d warung2 emperan...
Pernah jg kakakx Sisca bertanya, kenapa sih Sisca mau berteman dg org2 biasa aja...
karena mmg kl d lihat dari penampilan n jika org blom kenal betul...
Sisca d cap permpuan angkuh dan sombong.....
Padahal, sx ud mengenal Sisca....orgx sangat ramah sx...
Sisca mau mengorbankan apa saja ut org2 d sekitarx.....
Pada dasarx Sisca mau belajar ut hdp sama seperti org lain....
Sisca selalu ingin BISA MERASAkan...bukan MERASA BISA

Itulah Sisca org yg terkenal TEGAR, KERAS, TEGAS, ULET...terlihat kuat...
trnyata tdk seperti yg tampak kelihatanx.....tdk seperti XENA.....
tdk ada org yg tahu bhw Sisca bbrp x pernah ingin mngakhiri hidupx.....

Beberapa hari yg lalu Sisca di caci maki oleh seorg teman organisasix.....
Di depan teman2 yg lain.......sisca hny bisa trsenyum n berusaha ut mnjelaskan...
trlihat tegar...bahkan Sisca meminta maaf .....
pdhl teman2 lain jg tau Sisca tdk salah...
mrk lah yg duluan menelpon n krm sms kpd Sisca dg kalimat2 yg tdk terpuji.....
Tp spt biasa Sisca trsenyum n trtawa2.....menampakkan bhw dia tdk trpengaruh dg hal2 spt itu....
Tanpa org tau, setelah itu Sisca hanya bisa menangis d dalam mobilx....
Mau bercerita kpd siapa....Sisca hanyalh seorg prmpuan jomblo yg tdk punya siapa2...
Tdk mungkin bercerita kpd kakak2 atw org tua....
Krn bagi Sisca itulah resikox dia beraktivitas d dunia luar...
tanpa mau melibatkan kelrg dg masalah2x.....
biarlh permasalahan itu dia tanggung sndr....
Permasalahan apapun.....

Nah, inilah hidup....
banyak org yg menyembunyikan kelemahanx, DIBALIK KETEGARANX.....
Tidak sedikit yg berperan sbg SANG PEMBERANI, trnyata adalah seorg yg PENAKUT...
hanya segelintir org yg tdk bisa menutupi siapa dirix sebenarx....
Hanya org2 tertentu yg bisa menyatakan INILAH AKU.....
Mereka yg ingin menyembunyikan KERAPUHANX...
hanyalah mrk yg takut ut DI KERANGKENG dalam SANGKAR KEHIDUPAN....
Tapi dalam Kitab Sucipun ada di katakan bahwa....
Jika engkau berduka, berikanlah senyuman d hadapan banyak org...
Biarlah hanya hatimu yg tahu bhw engkau sdng berduka n menangis.....

Pontianak, 6 Agustus 2009

Jumat, 01 April 2011

RIAK-RIAK KEHIDUPAN

Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut

Kumpulan Cerita Mini : Kisah Kehidupan Sosial yang mempunyai latar belakang yang sama yaitu perekonomian yang sulit

“Sudah saatnya kamu kancing rosleting ROK mu NAK, jangan di buka untuk sembarangan lelaki,hargai diri dan tubuhmu, bekerja keraslah jika kamu menginginkan sesuatu, banggalah terhadap hasil yang kamu dapat dengan HALAL, ingat, p'puan malunya di kening, maksudnya apapun yang di buat p'puan lebih kelihatan, jalan hidupmu masih panjang, untuk itu cukupkanlah dirimu dengan perbuatan yang kemarin dan esok mulailah dengan jalan KEBENARAN” ... ungkapan dari seorang ibu untuk anak gadisnya yang cantik dan molek .. tapi si anak gadis tidak pernah sama sekali mau mendengarkan perkataan sang ibu ... karena dia sudah silau oleh gemerlapnya dunia dan uang ... anak gadis itu tak mau lagi hidup menderita seperti sebelum ia tahu bagaimana caranya mempergunakan kecantikannya ... ibu hanya seorang penjahit tradisional dengan mesin jahit biasa, yang pelanggannya hanya orang-orang sekitar kampung, penghasilan si ibu tak seberapa, jika dibandingkan dengan uang yang didapatkannya sekarang ,,,, ia sudah bisa punya mobil sendiri dan merehab rumah ibunya yang dulu cuma ada satu kamar, sekarang rumah ibu sudah berlantai 2 dan sangat menonjol di kampungnya ... ternyata mendapatkan uang sangat gampang baginya, hanya kerlipan mata dengan para bos, rupiah mengalir deras di kantongnya ... haruskah di sia-siakan kesempatan ini pikirnya, aku sudah bosan dengan kehidupan miskin, karena ibu tak pandai memilihkan ayah untukku ... padahal kecantikanku ini warisan dari ibu, tapi karena ibu tak pandai mempergunakannya maka hidupnya sengsara seperti itu ... aku tak ingin lagi menikmati keinginan yang sia-sia seperti waktu kecilku dulu ... aku ingin membalas kesengsaraanku dengan kelebihan yang kumiliki sekarang, itulah tekad gadis cantik itu ... tinggallah sang ibu yang berdoa siang malam supaya anak gadisnya kembali ke jalan yang benar ... 4 Februari 2011

Rembulan meneteskan air matanya, ketika mega berkerudung kelabu, cemeti halilintar memberondong lazuardi dengan laranya .. suara angin bergemuruh dan tiupannya meliuk-liukan pepohonan, bagaikn penari mesir meliukan tubuh indahnya di depan sang baginda ..tiada yang berani menonton gejolak alam itu, hanya seorg kakek renta dengan pelitanya duduk di sebelah pondoknya menunggu cucu perempuannya pulang ... sambil mengkhawatirkan keselamatan sang cucu, Sang kakek berdoa dengan penuh hikmat,.. cucu perempuan yang sangat di sayanginya merupakan satu-satunya darah dagingnya yang masih tertinggal d dunia ini .. peninggalan anak tunggalnya yang sudah tiada karena kecelakaan bus bersama menantunya ... Namun yang di tunggu, tak pernah perduli akan Sang kakek, si cucu sedang menikmati kehangatan bersama kekasihnya di sebuah hotel, ... semakin dingin menusuk, semakin erat ia memeluk kekasihnya, hingga keringat melumuri tubuhnya yang bugil, sampai terlelap... Saat matanya mengerjap, dirasakannya hangat mentari meronai wajah dari kaca jendela .. ia menggeliat .. dan tiba-tiba tersentak, ... Baru disadarinya bahwa hari sudah berganti, ia pun teringat akan sang kakek yang di tinggalkannya sendiri di Pondok Tua di tengah sawah .. bergegas ia pulang untuk menemui sang kakek, dalam hatinya tentulah sang kakek yang penyayang itu mengkhawatirkan dirinya .. Sesampainya di pondok, letih gadis itu memanggil dan mencari kakek, namun kakek tak di temukannya, padahal si cucu datang dengan membawa buah jeruk kesukaan kakeknya hasil dari perbuatannya semalam ... putus Asa gadis itu mencari kakeknya, rasa khawatir mulai merasuk dalam hati, ia mulai berpikir apakah kakek sudah turun ke sawah atau barangkali pergi ke pasar untuk mencari makanan .. segera gadis itu beranjak keluar untuk mencari kakeknya ... saat dia melewati samping pondok, di lihatnya sang kakek sedang duduk d kursi dengan mata terpejam, .. awalnya dia tersenyum senang, di pikirnya kakek sedang tertidur .. tapi setelah beberapa kali di panggil dan digoyangnya, Sang kakek terus diam tak bergerak, sekujur tubuh kakek sudah dingin membeku .... sadarlah ia bahwa kakeknya sudah tiada .. satu-satunya harta hidup di dunia ini yang di milikinya .. penyesalan melanda dirinya, isak tangis tak mampu untuk mengembalikan kakek yang begitu memanjakan dirinya ... Tinggallah ia merenungi nasibnya dan membayangi kesendiriannya ... 1 Maret 2011


Kuyub badan si bocah, d hempas derasnya hujan ... tp tak d gubrisnya dingin merasuk k dinding selnya .. terus d telusurinya pelataran toko yg sepi .. sambil mnggendong kotak semir sepatu, ia brharap satu dua org akan memanggilnya, sekedar memberi recehan uang untuk mmbeli sebungkus nasi yang belum d rasaknnya hari ini .. namun sampai jam berdentang dua belas kali malam itu, tak sepeserpun uang yang di dapatkannya ... wajahnya tampak letih dan pucat, dengan perut yang lapar iapun berjalan gontai meninggalkan pelataran toko itu .. sambil berjalan ia bertanya pada Tuhan, “Tuhan, benarkah Engkau ada, kalau benar, mengapa Engkau tega membuatku sengsara seperti ini, mengapa aku harus terlahir seperti ini, tanpa mengenal siapa ayah dan siapa ibuku, mengapa aku harus sebatangkara, anak-anak seumurku jam begini pada terlelap dan akan terbangun keesokan harinya untuk ke sekolah, sedangkan aku, aku harus berjuang mempertahankan hidupku, ...Tuhan, aku ingin seperti mereka, tidak perlu kaya, tetapi cukup untukku makan dan bersekolah” ... air matapun bercucuran membasahi pipi Sang Bocah ... 1 Maret 2011


Helai demi helai pakaian itu d kuceknya, tak terasa, 2 waskom sudah di selesaikan .. dan ia harus berpindah ke rumah yang lain lagi, untuk melakukan pekerjaan yang sama ... setiap hari perempuan itu harus mengeluarkan tenaganya untuk mencuci pakaian dari rumah ke rumah, hanya demi menambah biaya rumah tangga karena suami yang di PHK, sedangkan 3 orang anaknya masih membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah .... demi meneruskan hidup keluarganya dia rela melakukan pekerjaan mencuci dari rumah ke rumah ... tak diperdulikannya lelah yang menghampiri, karena sepulang dari mencuci ia harus mengurus rumahnya sendiri, memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak-anak dan suaminya ... sudahlah rutin kerjaan yang dilakukannya seperti itu setiap harinya, harus lagi ia menerima perlakukan dan ucapan-ucapan kasar dari suami yang stress karena tidak mempunyai pekerjaan lagi ...tapi dengan sabar, demi buah hatinya yang masih kecil kecil, ia harus rela menerima semua kemirisan hidup yang sedang di jalaninya ... tak pernah sedikitpun dendam terbersit dihatinya, karena sewaktu suaminya masih bekerja, sang suami hanya hidup berfoya-foya bersama teman-temannya dan perempuan-perempuan malam ...perempuan teguh ini tetap terus menikmati kehidupan barunya itu dengan berusaha untuk sukacita, ikhlas dan tulus ... tak diperdulikannya wajahnya yang cantik akan sirna karena sudah tak terawat lagi ... yang ada di hatinya kini adalah bagaimana ia harus bertahan hidup bersama anak-anaknya ... 2 Maret 2011