Selasa, 20 Desember 2011

TEMBANG LARA


Pontianak,3 Maret 2011
Oleh : Marselina Maryani Soeryamassoeka, S.Hut


Dengan berat ibu melepaskan Lidya untuk pergi ke kota, sekedar mengadu nasib, karena kehidupan di kampungnya tak banyak pilihan untuk mempekerjakan perempuan yang hanya mengantongi ijazah SMP seperti dirinya. Setidaknya kalau di kota, masih banyak lapangan pekerjaan yang mau menerima dirinya menjadi tukang cuci piring di restaurant atau menjaga toko. Dan ia masih bisa melanjutkan pendidikannya jika sudah mendapatkan pekerjaan. Begitulah rencana dan cita-cita gadis cantik yang lugu ini. Dengan tekad yang bulat untuk menggapai cita-citanya, ia nekad pergi ke kota meninggalkan ibu dan abangnya yang cacat, dengan mengantongi uang hanya Seratus Ribu Rupiah, ia terus melanjutkan angan-angannya tersebut.

Nasib mujur berpihak pada Lidya, seminggu ia berada di kota, sudah mendapatkan pekerjaan menjadi pelayan di sebuah cafe di pusat perkotaan. Cafe tersebut memberikan fasilitas tempat tinggal untuk karyawan dan upah yang cukup lumayan. Pengunjung Cafe itu sangat ramai, selain tempatnya memang asyik, makanannya terjangkau dan pelayanannya juga sangat baik di tambah lagi dengan Raut pelayan yang cantik dan ganteng, Sepertinya modal utama bagi calon pelayan di cafe tersebut haruslah berwajah menarik baik pria maupun wanitanya. Mungkin karena wajah Lidya yang memang sangat menarik dengan kulit yang putih bersih itulah maka ia tidak kesulitan pada saat melamar pekerjaan di cafe tersebut.

Dengan parasnya yang elok ditambah lagi dengan badan yang tinggi dan sintal, ia menjadi pusat perhatian para pengunjung. Baru sebulan bekerja saja Lidya sudah banyak di gemari oleh pengunjung Cafe. Karena begitu banyak penggemar yang selalu menanyakan Lidya dengan pemilik Cafe, maka Lidya pun menjadi karyawan kesayangan Bos, tentu saja, karena seorang Lidya dapat mendatangkan pundi-pundi untuk Bosnya.

Waktu berjalan, tak terasa tiga tahun sudah Lidya berada di kota, selama itu sudah empat kali Lidya pulang ke kampungnya untuk melihat ibu dan abangnya yang cacat. Dan penampilan Lidya juga sudah berubah, sudah bukan gadis kampung yang lugu lagi, namun sudah menjadi gadis kota yang cantik jelita.
Lidya pun sudah tak sendiri lagi, sudah ada seorang lelaki ganteng bermobil yang selalu mendampinginya. Laki-laki itu bernama Boy, bekerja di sebuah Bank Swasta. Boy merupakan putra tunggal dari seorang Politikus yang cukup terpandang dan punya nama. Boy seorang laki-laki yang baik, tidak pernah berurusan dengan Dunia Malam. Bertemu pertama kali dengan Lidya di rumah sepupunya yang berdampingan dengan Mess Karyawan Cafe dimana Lidya tinggal.
Hubungan mereka sudah setahun lamanya dan Boy sudah beberapa kali meminta Lidya untuk mencari pekerjaan lain. Hanya saja Lidya masih mempertimbangkannya, karena sebagai tulang punggung keluarga, tentu saja Lidya keberatan untuk meninggalkan tempat kerja yang menyenangkan dengan gaji yang sangat lumayan. Dari gajinya itu Lidya bisa merehab rumah ibu di kampung, membesarkan usaha jahit ibu yang dulu hanya ibunya saja yang menjahit, tapi sekarang ibu sudah punya dua puluh orang karyawan dan Lidya juga punya investasi lain di kampung yaitu kebun sawitnya seluas 30 ha, cukuplah untuk masa depan mereka sekeluarga. Sehingga Lidya belum memutuskan permintaan dari Sang Kekasih.

Sedangkan Boy selalu di tuntut oleh orangtuanya untuk memutuskan Lidya dengan alasan Status mereka yang jauh berbeda, apalagi mendengar Lidya bekerja di cafe, bagi orangtua Boy, Cafe merupakan tempat negatif.

Menjadi sebuah Dilema bagi Boy, karena di satu sisi Boy sangat menyayangi dan menghormati orangtuanya, namun di sisi lain dia juga sangat mencintai Lidya. Desakan orangtua Boy yang begitu gencar untuk memutuskan Lidya membuat Boy tertekan, bahkan Boy dikenalkan dengan beberapa anak gadis dari kolega ayahnya, membuat Boy menjadi bingung dan depresi. Dia tak mampu untuk meninggalkan Lidya.

Karena khawatir terpisahkan dari Lidya, Boy dan Lidyapun akhirnya melakukan hubungan yang hanya boleh dilakukan suami istri yang sah saja. Rasa Cinta yang begitu kuat dan desakan takut kehilangan telah membutakan keduanya. Dan betapa bahagianya Boy karena dialah lelaki pertama yang telah merenggut keperawanan Lidya. Berulangkali mereka lakukan hal tersebut, tanpa mereka sadari awal bencana telah mereka ukir dalam kehidupan mereka berdua.

Suatu hari Lidya merasakan badannya panas dingin, mual dan tidak ada nafsu makan. Tiga hari sudah ia tidak masuk kerja. Duh, sakit apa aku ini, pikir Lidya, sudah minum obat flu, kok masih juga sakitnya, malah tambah parah. Lidya pun memberitahukan keadaan dirinya pada Boy lewat pesan di handphone Boy, segera Boy meluncur ke tempat tinggal Lidya, Boy pun membawa Lidya ke rumah sakit untuk di periksa, dan betapa terkejut keduanya mendengar diagnosa dokter yang menyatakan bahwa Lidya sudah Hamil 2 bulan. Baru Lidya sadar bahwa dia memang sudah terlambat haid.
Dengan pikiran mantap Boy menyatakan akan melamar Lidya dan mereka harus segera menikah, Dia akan bicara dengan kedua orangtuanya. Ternyata pemikiran Boy bahwa hati orangtuanya akan luruh melihat keadaan Lidya yang hamil, salah besar. Ayah dan Ibu Boy berkeras menolak perkawinan tersebut. Bahkan Ibu mulai mengancam akan bunuh diri jika Boy tetap melanjutkan keinginannya tersebut. Boy semakin bingung, langkah apa yang harus di ambil. Sedangkan perut Lidya akan semakin besar. Tak mungkin dia membiarkan Lidya melahirkan tanpa seorang suami.

Orangtua Boy begitu cepatnya mengambil langkah-langkah untuk memisahkan Boy dari lidya, mereka sepakat untuk mengawinkan Boy dengan anak gadis dari salah satu koleganya. Tanpa minta persetujuan anak tunggalnya, Pak Prapto ayah Boy segera menetapkan hari pernikahan untuk anaknya.
Dan Suriati (ibu Boy) pergi ke mess Lidya dan mencaci maki Lidya, bahkan Suriati berkata sebaliknya kepada Lidya bahwa sebenarnya Lidya sudah merebut Boy dari Tunangannya, Amelia. Dia mengatakan bahwa Amelia sedang mengandung anak Boy. Lidya hanya mengaku-ngaku bahwa Boy sebagai ayah dari janinnya padahal itu merupakan janin dari berbagai laki-laki yang tidak jelas.
Suriati juga menegaskan bahwa Boy malu punya calon istri pekerja Cafe seperti Lidya, selama ini Boy hanya mencari pengalaman lain saja sebelum menikahi Amelia. Begitulah kata-kata yang di lontarkan Suriati kepada Lidya dengan berteriak-teriak, sehingga beberapa karyawan yang ada di mess tersebut menyaksikan keributan tersebut. Apalagi banyak teman-teman Lidya yang iri dan sirik melihat kecantikan lidya dan posisinya yang di senangi Pemilik tempat mereka bekerja. Mereka yang sirik tersebut, tersenyum dan memberitahu kepada Boss lewat Handphone mereka.

Keesokannya Lidya di panggil Sang Bos, karena Lidya hamil, ia di minta untuk menulis surat istirahat, karena Cafe tersebut tidak mempekerjakan karyawan yang hamil, itu alasan dari Boss secara halus untuk memberhentikan Lidya dari Cafe itu. Betapa sedihnya hati Lidya, duka berundung datang menimpanya. Belum lepas dari ingatan bagaimana ibu Boy telah mempermalukannya, sekarang ia harus menerima bahwa ia tidak bekerja lagi, sedangkan masih banyak kebutuhan di kampung yang memerlukan support dana dari dirinya, antara lain membayar karyawan yang merawat kebun sawitnya dan pelebaran usaha konveksi ibu.

Tak sanggup rasanya aku menjalani masalah ini semua, pikir Lidya. Apalagi sejak ibu Boy melabraknya, Boy tak bisa di hubungi lagi. Berbagai jalan Lidya coba menghubungi Sang Kekasih, namun jalan buntu yang di dapat. Boy tak jua bisa di temui.
Janin dalam perutnya itu yang membuat Lidya menjadi bingung. Bagaimana harus mengatakan pada ibu. Bagaimana caranya ia harus memandang wajah ibu yang pasti terluka. Anak yang di banggakannya selama ini, yang dia yakini bahwa anaknya bekerja dengan halal, ternyata pulang dengan membawa janin dalam perut yang tiada berayah.
Ooooh ibu, maafkan anakmu, tapi sungguh demi Tuhan, semua hasil yang ku berikan padamu adalah Hasil jerih payahku bu, tangis Lidya dalam hati. Tak terbayangkan olehnya, bagaimana penduduk kampung yang iri dengan keluarga mereka akan menghina ibunya. Semua tak sanggup untuk dijalani dan dihadapi. Sehingga Lidya mengambil suatu KEPUTUSAN sendiri.

Dengan airmata berderai di pipinya, Lidya menulis sepucuk surat untuk Boy, dalam surat tersebut, Lidya mengungkapkan perasaannya setelah mendengar cerita dari ibu Boy, Lidya juga meminta maaf pada Amelia tunangan Boy, karena selama ini ia telah merusak hubungan mereka.
“Teriring RESTU untuk mu bang, yang penting kau bahagia bersamanya.. Salam hormatku tertanda yang selalu mencintaimu" ... Sebaris akhir penutup surat cinta untuk kekasihnya, yang telah d relakannya untuk pergi.
Lidya, seorang gadis bermata sipit, berparas elok dan berbadan sintal, datang dari desa, dengan kemiskinannya ia berjuang pada gemerlapnya kota, tapi hiruk pikuk kota tak pernah bersahabat untuk gadis selugu dia dan kini ia tak sanggup menerima cintanya yang kandas oleh seorang pemuda kota.

Empat hari sudah Boy meninggalkan kotanya bersama kedua orangtuanya. Dia tidak pernah tahu bahwa orang tuanya telah membuat skenario perpisahannya dengan Lidya. Dia dijemput di kantornya secara mendadak, dikatakan bahwa ibunya sakit dan perlu di bawa ke Jakarta untuk berobat dan Boy diminta mendampingi ibunya bersama ayah.

Karena Boy memang anak yang patuh dan sangat menyayangi orangtuanya, maka tanpa berpikir apa-apa lagi ia segera minta ijin dengan kantornya untuk menemani ibu berobat selama satu minggu. Karena harus buru-buru pergi, handphone dan dompet Boy pun tertinggal di dalam laci meja kantornya. Sehingga ia tidak dapat menghubungi kekasihnya Lidya.

Apa kabarmu sayang, jaga baik-baik anak kita ya, kata Boy dalam hatinya sambil tersenyum bahagia membayangkan seorang bayi yang akan menjadi anaknya. Emmhh, sebentar lagi aku akan menjadi ayah, demi seorang bayiku, terpaksa aku sekali ini tidak patuh padamu ibu dan ayah. Aku akan mempertanggungjawabkan segala perbuatanku. Lidya adalah gadis pilihanku. Walau kalian berdua tak mengakuiku sebagai anak lagi, tapi itulah kenyataannya. Karena aku sekarang sudah menjadi laki-laki bukan anak laki-laki lagi. Semoga kalian mengerti akan perasaanku, perbuatanku dan pilihanku nanti.

Beberapa jam kemudian Pak Prapto, ayah Boy menerima telfon dari Wisnu keponakannya atau sepupu Boy yang tinggal di sebelah Mess Lidya. Wisnu ingin berbicara dengan Boy.
Awalnya Pak Prapto enggan memberikan telfon genggamnya kepada Boy, namun karena Boy di dekatnya dan mengerti bahwa ada yang ingin bicara dengannya, akhirnya Pak Prapto pun memberikan telfon genggam tersebut kepada Boy.
Setelah Boy menerima telfon tersebut, betapa terkejutnya Boy menerima Berita Kematian Lidya dari Wisnu. Langit terasa gelap, kepala Boy berputar.
Oh mimpikah aku, atau Wisnu berbohong atau bercanda. Aku harus segera pulang, pikir Boy.
Dan pikirannya itu di ungkapkan kepada ayah. Awalnya ayah tidak setuju. Sempat terjadi bersitegang antara Boy dan ayahnya. Boy mengancam akan lompat dari jendela hotel jika ayah tidak mengijinkannya pulang.

Akhirnya Suriati, ibu Boy mengajak Prapto dan Boy untuk pulang, karena Suriati berpikir orang yang harus tersingkir telah menyingkirkan dirinya sendiri, jadi tak ada yang perlu di khawatirkan lagi.

Boy meraung melihat jenazah kekasihnya. Dipeluk ciumnya wajah yang sudah tak bernyawa itu.Sayang mengapa jalan ini yang harus kau tempuh. Mengapa tidak sabar menungguku. Sedang Boy bersimpuh pada jasad Lidya, Dewi sahabat Lidya memberikan sepucuk surat padanya. Ragu Boy menerima surat itu. Namun akhirnya diterimanya juga surat tersebut dan langsung dibacanya. Betapa terkejutnya Boy membaca ungkapan Fitnah ibunya kepada Lidya. Ternyata kebohongan ibunyalah yang telah membunuh Lidya.

Boy berdiri dari tempatnya bersimpuh sambil berteriak histeris dan menunjuk ibunya “Ibu, selama ini aku sangat hormat padamu, ternyata ibu hanyalah seorang ular yang licik, aku tidak bisa menerima perlakuanmu ini dan ibu tidak akan pernah melihatku lagi selamanya, karena aku akan menyusul Lidya dan anakku”.

Setelah berteriak, Boy lantas berlari ke jalan dengan membabi buta tanpa melihat kendaraan yang sedang melaju, Boy pun menabrak sebuah sebuah mobil dan terlempar ke trotoar. Darah segar mengalir dari kepalanya. Ayah, ibu dan yang lainnya yang menyusul ingin menyelamatkan Boy, tak bisa berbuat apapun, karena nyawa Boy tak dapat di selamatkan lagi, walau demikian segala usaha dari kedua orangtuanya tetap dilakukan.
Boy di bawa ke rumah sakit terdekat, namun dokter IGD memastikan bahwa Boy sudah meninggal. Pekik jerit sang Ibu tak dapat membangunkan Boy. Penyesalanlah yang selalu hadir terlambat.

Lidya dan Boy, dua kekasih yang saling mencintai, dimakamkan bersebelahan. Mereka memadu kasih sehidup semati. Lidya seorang gadis yang berasal dari kampung yang ingin mengadu nasib di kota, akhirnya menemukan Perjalanan Akhir Hidupnya yang mengenaskan. Sedangkan Boy seorang Pemuda Kota, laki-laki yang baik dan patuh terhadap orangtua, berpendidikan dan sudah mapan, namun tidak cukup mapan ketika berhadapan dengan cinta.

Dan Suriati, seorang Ibu yang terlalu melindungi anak laki-lakinya akhirnya tak cukup kuat untuk kehilangan anak semata wayangnya. Depresi berat menimpanya, kejiwaannya terganggu hingga harus di rawat inap di Rumah Sakit Jiwa.

Sedangkan Prapto seorang Politikus yang ganteng dan ternama, akhirnya menderita stroke, terlalu banyak beban yang mendera menyebabkannya terserang stroke. Ketika Suriati di rawat di RSJ, Prapto menikahi perempuan yang sudah 7 tahun menjadi simpananannya. 2 tahun setelah menikahi istri mudanya tersebut Prapto menemukan bahwa perempuan itu telah memperdaya dirinya, hanya menguras hartanya untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain.

(Cerita Fiksi, jika ada nama, cerita dan tempat yang sama, ini hanya kebetulan saja)

0 komentar:

Posting Komentar